Seperti hari-hari biasa, setelah magrib ngaji bareng dengan anak-anak kelas 9 (kelas 3). Beberapa anak mendekat padaku dan ada satu anak yang selama ini jarang gabung kali ini dia ikutan ngrumpi, padahal dia terkenal hemat omongan. Tiap hari memang saya usahakan menyempatkan ngobrol dengan mereka setiap habis magrib, karena mereka anak tertua jadi perhatian dari guru-guru yang lain sudah agak berkurang karena lebih fokus di kelas satu yang masih kekanak-kanakan. dan biasanya karena tingkat kenakalan mereka yang agak tinggi dibanding adik-adiknya, terutama masalah yang datang seiring perkembangan pubertas mereka.
Seperti dugaanku, setelah sedikit dipaksa sama teman-temannya akhirnya dia yang terkenal (dikalangan guru) sebagai anak pendiam itupun berkata:
“ Lapor Ustad, Saya mengalami perlakuan yang sangat mengganggu” katanya lirih, tetapi masih terdengar karena teman-teman yang lainnya dengan kompak membisu.
” perlakuan yang sangat mengganggu, maksudmu?” aku mengernyitkan dahi.
setelah menunggu agak lama, karena dia harus di paksa sama teman temannya dulu akhirnya dia menjawab pertanyaanku.
“itu ustad…saya sudah beberapa kali kalau tidur diganggu” ceritanya agak terputus-putus
“diganggu siapa, temen se asrama, atau diganggu hantu?” selorohku santai…
“itu ustad ada yang HOMO” jawabnya sambil di ketawain teman-teman nya…cekikikan…
“maksudmu?”..
“ya homo ustad, homoseks”,,,
“saya adalah salah satu korbannya”,,,
“salah satu?”..
“iya, selain itu ada 2 temen yang lain, dan yang melakukan itu…… adalah….**XX**”,,,
“pokoknya harus di tindak tegas ustad, hukum harus di tegakkan, kasihan temen-temen bahaya!!!” timpal seorang santri lain yang katanya siap menjadi saksi.
“sebentar-sebentar” aku masih belum percaya.., karena nama yang disebut anak tadi adalah anak yang Face nya sangat alim, baik, pinter, ndak neko-neko, tidak pernah terlibat kasus apapun, pokoknya bisa menjadi teladanlah sebenarnya.
“iya ustad dan temen-temen banyak yang jadi saksinya”,,,seorang anak yang lain lagi memberi penegasan.
“lho…koq ustad malah diam…?”,tanya anak yang siap jadi saksi itu, karena dia melihat saya hanya senyum-senyum sambil memandangi mereka satu-persatu.
“ustad pasti tidak percaya”,,,
sebenarnya saya masih kaget, belum bisa memberikan komentar kepada mereka, tapi mereka terus mendesak saya agar saya memberi tindakan. Akhirnya aku beri jawaban diplomatis kepada mereka, “baiklah anak-anak saya hanya berhak menerima laporan, OK Laporan saya terima, nanti masalah tindakan itu akan ditindaklanjuti BP”…
“tapi sebentar, saya ingin bicara dengan para korban, setelah ini di ruang asrama saya”…
in a few minutes…
akhirnya saya berada dilorong asrama ruang tamu.
“sekarang ceritakan…apa yang terjadi pada kalian”…
“begini ustad…*****bla-bla-bla#####”,,,,
“oh…. hanya begitu….cuman dipeluk dari belakang…waktu tidur….gitu aja?”…
“ndak ustad…tangannya juga menggeranyangi dada saya”,,,
“oh…” aku mengangguk..
“kalau saya ustad korban kedua, sebenarnya sudah sejak kelas 8 dulu” tambah korban kedua
” kalo saya malah parah ustad, saya sampai di pegangin ****** saya”,,,
“tapi itu juga pas saya tidak sadar, pas tidur,…tahu-tahu dia ada di belakang saya dan saya kaget koq ada yang pegang ****** saya”,,,
“OK…saya terima laporan kalian….” agak lega saya, karena ternyata hanya sampai segitu saja. karena dibayangan saya sudah yang nggak-nggak…
.
“saya tahu itu sangat mengganggu pikiran kalian, tapi perlu kalian tahu, menurut saya itu belum bisa kita simpulkan kalau dia HOMO”…
“lho koq bisa??” kompak mereka,,,
“menurut saya, itu bukan HOMO, tapi libido yang berlebihan…itu wajar bagi anak-anak seusia kalian” jawabku agar mereka agak tenang.
dengan sekuat tenaga saya jelaskan kepada mereka tentang HOMOseks dengan referensi sejarahnya Kaumnya Nabi Luth. diskusi saya selesaikan karena adzan isya’ berkumandang dengan keras.
dan akhirnya lagi-lagi saya tutup dengan diplomatis…(terpaksa, karena belum bisa memberikan solusi konkret + masih belum bisa percaya, ketenggengen::)
“baiklah, saya akan melaporkan ini kepada BP, karena saya sendiri tidak mempunyai kapasitas untuk melakukan tindakan, sekarang yang perlu kalian lakukan adalah, bagaimana agar kalian tidak merasa phobia dengan teman yang tidur disampingmu, dan bagaimana agar kalian merasa nyaman lagi saja. karena kita tidak bisa mengubah dia secara langsung karena kita belum tahu ilmunya, jadi kalian mengobati perasaan kalian masing-masing, masalah dia yang agak ‘lain’ itu biarlah BP nanti yang mengatasinya…OK! ” ….
hhhh……hhhh…
Sampai malam aku berpikir tentang ;aporan anak-anak itu,. memang aku bisa meredam anak-anak, tapi sebenarnya aku sendiri masih khawatir, karena pernah ada penelitian yang hasilnya menunjukkan adanya kecenderungan HOMOSEKS di asrama-asrama khusus laki-laki..misalnya pondok atau barak…jika itu tidak segera ada tindakan, bisa jadi akan merugikan banyak pihak, terutama sebagai korbannya, walaupun tidak di apa-apakan, tapi rasa tidak nyaman itu akan menjadikan psikologinya menjadi tertekan, dan merasa minder juga ketakutan yang phobia….
beberapa artikel sudah aku coba download, tapi aku masih belum menemukan yang pas buat referensi kelainan anak semacam ini. semoga ketakuatan ku tidak benar dan BP segera bertindak dengan cekatan…(amin).
]} Komentarmu