Sang Insinyur tanpa IP

Hari Ahad (18/5) kemarin saya terpaksa ijin mbolos sekolah karena harus menghadiri pernikahan teman spesial di kampung. Sekalian liburan, selesai Sholat Jumat saya starter sepeda saya menuju selatan meninggalkan kota Bojonegoro menuju Nganjuk kota angin. POM bensin rame banget, untuk sekedar mengangkat jarum fuel dua strip saya harus antre kira-kira 20 menit. Gara-gara kabar BBM mau naik saya takut nanti di tengah perjalanan kehabisan bensin saya kesulitan dapatkan penjual bensin eceran. Apalagi setengah perjalanan menuju Nganjuk ini adalah bermedan bukit dan berhutan. Walaupun hanya 2 strip harus penuh tangki saya.

Selama kurang lebih 2 setengah jam, dengan kecepatan standar akhirnya sampai juga di rumah. Sampai rumah langsung menyantap Bakso nan nikmat dan lezat tentunya disambung es degan yang suegerr.glek!shhshshshhsh ah….!.

Habis magrib saya jalan-jalan kerumah calon pengantin yang akan menikah besok ahad. Calon pengantin ini adalah sahabat saya sejak kecil. Walaupun rumahnya agak jauh, tapi hanya dia teman saya yang awet sampai sekarang. Sejak TK, MI, MTs, dan Aliyah kami satu sekolah. Dan kami tidak pernah satu kelas, sama sekali.

Sejak SD dia sudah dididik menjadi pekerja keras. Bersama paman-pamannya yang pandai berbisnis dan berternak, dia menyerap ilmu yang diwedar dengan sangat sempurna. Selama sekolah dia menjadi anak yang berani menggantungkan cita-cita bisnisnya dengan tinggi. Buku tentang tokoh-tokoh bisnis yang sukses dia lahap. cerita-cerita hidup dari orang-orang tua dia perhatikan dan dihikmahi dengan seksama.

Ketika kami selesai SMA, kami berpisah. Berpisah dalam arti jalan yang kami pilih berbeda. Saya saat itu memperoleh kesempatan lolos UMPTN melanjutkan ke Surabaya, sementara dia memilih memulai karir usahanya di rumah dengan menjadi penangkar lele, untuk memecah mitos masyarakat “ora ono joko sugeh” (tidak ada jejaka yang kaya).

***

Insinyur Lele

Berawal dengan modal pinjam induk lele dari salah seorang pamannya dan gabah 4 karung untuk membangun 2 kolam dan beli pakan dia memulai karir bisnisnya menjadi mandiri. Hanya dalam jangka waktu beberapa bulan, namanya sudah berkibar di dunia perbibitan lele. Bahkan daerah Pare-Kediri yang di kenal sebagai pusat dunia pembibitan lele telah dia kenal dengan baik. Semua dia tekuni dan kerja keras yang hebat.

Beberapa kali update ilmu pengetahuannya tentang lele diperolehnya melalui TEWAS nya ribuan bibit lele yang siap jual. Buku-buku tokoh sukses yang dibacanya dan profil beberapa pamannya yang pantang menyerah semakin menambah semangatnya untuk terus melaju di dalam bisnis bibit lele ini tanpa pernah kendur sebentarpun.

Al hasil sepetak tanah di samping rumahnya telah berubah menjadi beberapa kolam yang tidak pernah kosong dari lele-lele junior. Pernah ketika saya pulang kampung dari surabaya dengan naik angkutan desa yang biasa kami naiki waktu SMA dulu Pak sopir angkutan yang akrab dengan kami, berkata ” Temenmu itu kayaknya semakin hari bisnisnya makin hebat aja, lihat itu sekarang samping rumahnya sudah jadi kolam semua“.

Pernah suatu ketika dia di datangi seorang penyuluh dari dinas peternakan. Dalam penyuluhan itu dia diberi berapa saran untuk menjaga kesehatan si bibit ikan agar tidak mudah terserang penyakit, atau tidak gampang bule. Dengan rasa rendah hati dan tidak ingin menyinggung dia dengarkan dengan baik-baik. Sebenarnya semua penjelasan yang disampaikan oleh penyuluh itu sudah dipraktekkan semua. dan dia juga sudah tahu bahwa semua teori yang disampaikan oleh penyuluh itu tidak semua bisa berhasil dipraktekkan, dan bahkan dia sudah melakukan riset kecil-kecilan mengembangkan teori yang gagal dipraktekkan itu. pada akhirnya dia menemukan cara tersendiri untuk bisa mengatasi dengan caranya temuannya sendiri. Pada saat itulah saya yang masih belum selesai kuliah mengatakan kepadanya “kamu sekarang adalah Sarjana tanpa IP, kamu lebih insinyur ketimbang insinyur yang datang itu“.

***

Ekspansi ke wilayah telur

Man jadda wa jada. Pepatah arab ini dia buktikan dengan nyata. Hasil yang dia dapatkan telah membawanya menjadi pemuda mandiri yang benar-benar muda. Jiwa entrepeneurnya membisikkan dia untuk memperluas bidang usahanya mengikuti jejak paman-pamannya di bidang Ayam petelur.

Dengan modal awal dari keuntungan bisnis lelenya dia memulai dengan 600 anak ayam. Keahlian manajemen keuangan perusahaan ternyata dikuasai dengan baik. terbukti hanya dalam jangka waktu kurang dari satu tahun dia berhasil menjadi salah satu pendatang baru hebat di dunia peternakan ayam. Sementara bisnis lelenya tetap dia jalankan dengan lancar.

Ketika saya lulus kuliah, dia sudah memiliki tanah sewaan seluas 80 km2. Selain mampu hidup mandiri, dia juga telah mengajak seorang teman dan saudaranya untuk membantu bisnisnya ini. Dalam usia 22 tahun sudah mandiri dalam finansial dan bahkan menjadi tulang punggung keluarga, dan bahkan lagi bisa memberi lapangan pekerjaan bagi orang lain. Sedangkan saat itu saya baru lulus kuliah.

Kemarin ketika pulang saya ikut ke kandangnya, saat ini jumlah ayamnya kurang lebih 6000 ekor. Ketika saya tanya berapa kira-kira assetmu semua jika diuangkan. dia menjawab mungkin sekitar 250 jutaan. Saya hanya bisa tertegun. Seorang yang tetap sederhanya diusia semuda itu dan dengan kemampuan finansial yang seperti itu. Saya kira angka 250 juta itupun bisa lebih karena saya tahu dia adalah type anak yang tidak ingin dianggap “wah”. Sampai saat inipun tidak banyak para tetangga yang tahu bahwa kandang beserta 6000 ayam petelur itu adalah milik pribadinya. banyak yang menyangka bahwa semua itu adalah milik ayahnya ataupun kakaknya. dan ketika para tetangga bertanya dia menjawab seperti prasangka para tetangga pada umumnya.

Menjatuhkan cinta

Semasa sekolah sebenarnya dia dan saya tidak jauh beda dalam urusan perempuan. sama-sama tidak berani untuk serius. Bukan karena takut tidak laku, tapi lebih karena merasa tidak mempunyai finansial yang cukup untuk berpacaran, mentraktir, jalan-jalan seperti layaknya teman-teman yang pacaran saat itu. Yang kami miliki saat itu adalah teman perempuan dan laki-laki yang banyak.

Pernah suatu ketika kami berdua malam mingguan. Rencananya mau kerumah seorang teman perempuan kami. Ketika kami sampai di sana baru ngobrol 5 menit (itupun bruto kepotong minum teh yang kepanasan, nettonya 2 menit mungkin) pacarnya datang ngajak keluar. Akhirnya kami ngobrol dengan bapak dan ibunya. Pernah juga malam mingguan kerumah salah satu adik kelas yang tekenal cantik, kebetulan saya yang kenal agak dekat di sekolah. Betapa kagetnya kami ketika sampai rumahnya ternyata dimejanya banyak sekali kartu domino dan rekapan nomor togel. Ternyata bapaknya adalah penggila judi lotre ini. kami hanya sebentar kemudian pulang, sialnya sepulang dari rumahnya itu ban sepeda motor kami bocor sampai 2 kali.

Pada suatu ketika pulang sekolah dia terpesona oleh seorang adik kelas baru. Setelah di telusuri, ternyata sang adik kelas ini adalah adik kandung salah seorang teman perempuan kami di sekolah. Dalam upaya pe de ka te dengan si Adik kelas ini dia introvert. Sehingga tahu-tahu dia sudah berkenalan dan beberapa kali mengantar pulang (tapi hanya sampai ujung gang). Baru beberapa kesempatan kemudian dia mengajak saya untuk main ke rumahnya. Apalagi kakaknya Si adik kelas sudah akrab dengan saya.

Kunjungan pertama tidak sesuai dengan rencana.

“tok-tok-tok, assalamuaalaikum,”

“wa alaikum salam”

“mencari siapa mas?”

“temannya Mida, Bu”

“oh… masuk mas silahkan duduk”

beberapa saat kemudian Si Mida menemui…

“oh Shobirin… sebentar ini kan anak ngronggot juga kan”

sambil menunjuk teman di sebelahku dia mengingat-ingat …

“oh iya Surur kan?”

“iya…”

kemudian yang terjadi adalah ngobrol ku dengan si Mida, sang kakak. Kami mau menanyakan sang adik. tapi masih menunggu saat yang tepat. sampai suatu jeda bicara, si Mida bertanya …

“sebentar-sebentar, sebenarnya ini tadi ada tujuan khusus apa mampir?”

ehh… pertanyaan yang ku tunggu-tunggu.. tapi belum aku menjawab, teman ku menjawab

” nggak, cuman mampir aja, ini shobirin mau nanya rumahnya Nita itu yang mana ya?”

wah-wah… saya jadi umpan nih. Tapi memang saat itu memang saya juga sedang dapat gossip dengan perempuan yang bernama Nita tadi. teman sekelasku. Ya sudah tidak apa-apa. Malam kunjungan pertama kami tidak berhasil menemui si Adik Kelas adiknya Si Mida. Malam-malam berikutnya akhirnya kami berhasil menemuinya.

Proses pe-de-ka-te dengan keluarga si Adik Kelas dilakukan ketika saya sudah masuk kuliah. Jadi hanya sepotong-sepotong mendapatkan bagian prosesnya. Laporan yang dia berikan kepada saya bahwa signal semakin kuat. jadi tidak ada kendala. hanya saja saat itu sang adik kelas masih sekolah. jadi agak protektif sang kakak kepada sang Adik kelas.

Beberapa waktu seiring dengan semakin berkembang pesatnya dunia bisnisnya di bidang lele, maka intensitas pertemuan juga semakin menurun, dan bahkan pada titik klimaks konfliks hubungan dengan sang Adik Kelas. Saat itu dia benar-benar sudah ingin melupakan Si Adik kelas.

Ketika akhir semester 6 saya mendapat kabar bahwa hubungan mereka kembali membaik dan bahkan semakin membaik. Pada tahap ini saya tidak banyak mengikuti karena saya pas heboh-hobohnya di dunia kampus.

Akhirnya tahun kemarin, tepat satu tahun yang lalu dia meminang secara resmi kepada keluarga sang adik kelas. Dan alhamdullillah pinangan tersebut dilanjutkan dengan Ijab Qabul secara sah.

Satu tahun berikutnya orang tua sang Adik Kelas menghendaki acara resepsi pernikahan secara formal. maka pada hari ahad (18/5) kemarin acara resepsi secara besar-besaran diadakan di rumah sang mertua.

Alhamdulillah. Dalam kondisi usia muda dengan kecerdasan finansial yang mantap, dia siap menggandeng sang Adik Kelas menuju keluarga sakinah mawaddah dan rahmah. Walaupun mitos “ora ono joko sugeh” tetap tidak bisa dia pecahkan.

Untuk : Saudaraku Miftahussurur & Atik Urahmah
Semoga Pernikahan kalian abadi.
salam,
Shobirin Saerodji

1 Tanggapan ke “Sang Insinyur tanpa IP”


  1. 1 Fiz 20 Mei, 2008 pukul 2:59 am

    Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah untuk sobatmu.
    BTW Postinge duowo, luwucu, tur muantebz Rin…!!!!


Tinggalkan Balasan




]} Qolbu Berbisik

qbfot


Sebelum semuanya berlalu ...

Semua yang ada di sini kebanyakan hanya pikiran-pikiran yang ada di otakku, kemudian aku tuangkan. Jadi mungkin banyak yang kurang berkenan dengan pengetahuan, perasaan atau keinginan anda mohon dipermaklumkan.

banner blogger Nganjuk orange

cicak-lawan-buaya1.jpg

]} Tamuku

  • 79,274 Pengunjung

Flickr Photos

DSC04759

DSC04736

DSC04725

Di Bantimurung

DSC04720

More Photos