″Rasanya baru kemarin ketemu bulan ramadhan. Besok sudah ketemu lagi. Berarti hari ini kesempatan terakhir makan siang dan minum es cingcau di bawah panas terik. Waduh, apalagi musim hujan belum tiba″.
Ups! Apa ini berarti saya tidak bahagia ketemu lagi dengan bulan ramadhan?. Bukankah saya seharusnya tahu bahwa menurut salah satu hadits menyatakan bahwa orang yang merasa senang dengan datangnya bulan ramadhan maka diharamkan jasadnya disentuh api neraka.(?).
Memang, Saya tahu itu. Tapi senang dan tidak senang itu adalah perasaan. Dan kita tahu bahwa perasaan itu tidak bisa dibuat-buat. Naluriah atau lebih bisa dikatakan dari hati. Itu artinya mendekati sebuah kejujuran. Jadi senang dan tidak senang itu tidak bisa dibuat-buat. Terkadang kita memang bisa belajar senang dengan sering mengucapkan dengan mulut kita bahwa saya senang. Ternyata, kadang mulut kita -secara tidak kita sadari- tidak sinkron dengan perilaku refleks kita. Oleh karena itu saya tidak mau memaksakan diri untuk menyatakan bahwa saya senang dengan datangnya bulan ramadhan ini. Walaupun sebenarnya saya sangat ingin merasa senang, dan saya juga tidak tahu, apakah saya benar-benar tidak merasa senang. Karena sampai saat ini saya belum benar-benar paham dengan terjemah dari ucapan refleks saya di atas. kalau memang ucapan refleks itu menjadi “judge” perasaan saya, maka saya tidak ada keinginan untuk mengelak. Karena barangkali memang begitulah adanya.
Perasaan senang, suka dan cinta akan sesuatu seperti yang diketahui banyak orang bisa terjadi secara spontan ataupun bisa terjadi karena terbiasa. “witing trisno jalaran soko kulino” (wit: Pohon; jalaran: tumbuh/menjalar; kulino: Terbiasa). Begitu pepatah jawanya. Nah kalo dengan bulan ramadhan tahun ini, barang kali “kulino” yang bisa menumbuhkan “pohon” cinta saya terhadap bulan ramadhan adalah dengan “mengenalinya lebih jauh”. Dengan mengenali kehebatan, keunggulan, keluarbiasaan, atau kelebihan-kelebihannya. Dan mungkin saya akan berusaha mengenali lebih dekat bulan ramadhan dari sisi-sisi yang lain (apa ya?). Pokoknya saya akan berusaha Pe De Ka Te yang se De Ka Te – De Ka Te nya.
Semoga saja saya bisa jatuh cinta dengan Ramadhan tahun ini. Sehingga saya akan sedih dan merindukannya ketika dia akan berakhir nanti. Dan hal itu akan menyebabkan saya akan senantiasa menantikan kehadirannya ketika bulan syawal berlalu. Pada akhirnya saya akan bahagia dan senang ketika ramadhan menjelang tahun mendatang. Semoga Allah Swt meridhai dan mengijinkan.Amin.(Choby)
Selamat Menikmati Ibadah di Bulan Ramadhan
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Semoga Amal dan ibadah kita terasa Nikmat
Sehingga Keihlasan kita di terima Allah Swt. Amin.
Muh. Shobirin Saerodji Bojonegoro, 31 Agustus 2008 17.05 WIB.










]} Komentarmu