Pedangmu berkilat melengkung
tegas tebas menghabisi wajah pucat kumpeni
tanpa tertahan
kudamu meringkik hebat
surainya melambai-lambai tertiup angin perang
kencang dan lembut membawa panas dan dingin
Pangeran!
Saya masih hidup
Saya melihat kuda anda sekarat
Saya tanya kuda anda
“mengapa Yang Mulia Pangeran mau bermeja dengan kumpeni mukapucat?”
Kuda anda mengerang marah dan menyebutkan sebuah kata
Rotterdam.
Saya mengerti, karena Anda Pangeran Senopati ing Alaga.
Sang ksatria yang selalu mengangkat kejujuran dan kemanusiaan
dan saya paham bahwa Anda adalah Sayyidin Panatagama Khalifatullah,
sehingga tidak akan bisa
Rotterdam yang rapuh ini memenjarakan kewalianmu
karena hakekatnya Allah telah membebaskan ruhmu
untuk bercengkerama dengan kemerdekaan
yang sedang kami rayakan hari ini.
Shobirin Saerodji@Wisma AmanatMakassar, 8 Agustus 2008









M E R D E K A…………….!
sungguh megah dan indah kata itu
darah, keringat, air mata tertumpah untuk meraihnya
pernahkah kita bertanya pada diri sendiri?
sudahkan kita menghargai para pendahulu kita yang telah berkorban untuk meraihnya?
masihkah ada perasaan bergetar ketika lagu Indonesia Raya dinyayikan?
sungguh memprihatinkan……
apa yang telah dibuat para penyambung lidah rakyat dalam meneruskan perjuangan ini, dengan bangga kehilangan rasa malu dan takut akan Tuhan
dan rasanya tidaklah salah jika Allah menghukum kita semua…..
semoga kita semua mulai berbenah, mengkoreksi diri dan menyadari bahwa KEMERDEKAAN adalah amanah
Salam merdeka…
Walo masih sering timbul pertanyaan yg sebenarnya ga butuh jawaban, sudah benar2 merdekakah kita?