KABAR tentang akan tayangnya film laskar pelangi pertama kali saya dapat ketika acara buka bersama dengan teman-teman mantan kuliah beberapa waktu lalu. Kabar inipun saya sampaikan kepada 2 teman di pondok. Karena kami sama-sama tuntas membaca 3 bukunya Andrea Hirata, artinya kami bertiga sama-sama pecinta beratNovel Laskar Pelangi, maka kami bertiga pun sepakat untuk nonton premiere Laskar pelangi di surabaya.
Saya kebagian jatah untuk pesen tiket, temen saya yang satu kebagian nyetir, temen satunya kebagian beli bensin dan mobilnya.
Dengan bantuan seorang temen di Surabaya, akhirnya kami bertiga dapat tiket, walaupun posisi kami di bojonegoro. Sore pukul 16, kami bertiga tancap gas menuju surabaya. kurang lebih 3 jam (plus, berbuka dan sholat magrib) kami sampai di surabaya.
Sebelum masuk 21 studio (di Royal Plaza) saya mengajak teman-teman untuk ngopi di tempat favorit saya waktu jaman kuliah dulu, lesehan jawa pos. mengingat waktu masih agak longgar, 1 jam lagi baru mulai. Gara-gara nunggu kopi dan minuman yang lama, akhirnya malah kami telat masuk studio.
Kami pun bersama-sama telat dan kemudian menikmati film dengan khusyuk. khusyuk? Iya khusyuk, karena kami semua nyambung dengan filmnya, tertawa terbahak-bahak, kemudian sedih terharu, sampai menitikkan air mata. sesuatu yang indah jika ini bisa terjadi dalam setiap sholatku. sayangnya ini terjadi ketika nonton bioskop.
Kawan, kuberitahu engkau. Jika engkau adalah pembaca novel Laskar pelangi, ada baiknya engkau melihat filmnya. Riri Riza telah mevisualisasikan imajinasi para pembaca dengan sangat nyata. Kelucuan, kejeniusan, keindahan, kesedihan, kesialan, ketabahan, keunikan, semuanya yang ada dalam novelnya terekspresi dalam film ini. Jika engkau belum membaca Novelnya, mungkin akan sedikit bingung, dan tidak akan merasakan kenikmatan seperti jika kamu sudah baca novelnya.
Seperti penokohan Bu Mus dan Pak Harfan, saya benar-benar salut sangat sesuai dengan versi novelnya. dan itulah imajinasi saya yang lahir ketika membaca novelnya. sekarang “nyata”.
Sedangkan beberapa cerita di novel ada yang tidak ditampilkan. Mungkin karena terbatas durasi film. Ada sedikit penambahan cerita tentang kisah pedekate-nya Pak Ahmad (Tora Sudiro) Guru SD PN kepada Bu Muslimah (Cut Mini). Kemudian kisah cerdas cermat yang menurut novelnya dihiasi dengan perdebatan antara Lintang dengan Guru SD PN, di filmnya Pak Guru SD PN malah membantu Lintang mendebat jawaban dewan Juri.
Tetapi lepas dari semua itu, film laskar pelangi benar-benar mampu menginspirasi. sebuah film yang harus dilihat oleh semua guru murid , orang tua, politikus, birokrat, atau orang-orang yang berada dilingkup dinas pendidikan, atau siapapun yang peduli dengan pendidikan, dan respek terhadap kaum yang termarjinal karena rendahnya tingkat kesejahteraan ekonomi.
Yang juga menyumbang bahagia adalah film ini premiernya tanggal 25 september. Tepat hari lahirku 25 tahun lalu. Dan aku bisa menontonnya. Alhamdulillah.









Wuff…..
Matur suwun traktirane….
seng ga kalah penteng ganti’in nyetir saat yg lain ga kuat lagi membuka mata……
aduh saya belum sempat nonton nih.. bagus ya?
Whoaaa..
Seru bgd ya?!
Aku malah merinding baca tulisan kamu..
Pengen cepet nonton!!!
Jadi pengen nonton…