Seperti bermain gitar,
Dengan dawai berjajar diam yang tidak sama besar
kadang ku sentuh dengan lembut
kadang ku cabik dengan kasar
mengapa tidak hanya dengan kelembutan?
Seperti bermain gitar,
Dengan dawai berjajar enam yang tidak sama besar
Kadang ku petik satu-satu dengan keteraturan
Kadang ku koyak serampangan bersamaan
Kenapa tidak hanya dengan sebuah keteraturan?
Seperti bermain gitar,
Dengan dawai berjajar enam yang tidak sama besar
aku tertawa bahagia dengan harmoninya
aku juga menangis tersedu entah mengapa
Mengapa tidak hanya kebahagiaan yang muncul darinya?
Seperti bermain gitar,
Dengan dawai berjajar enam yang tidak sama besar
Sebuah keputusan hidup kuambil
Kapan permulaan dan akhir melodi ini?
Seperti bermain gitar,
Dengan dawai berjajar enam yang tidak sama besar
beda suasana adalah harmoni
hakekat sebuah keindahan
hakekat sebuah kehidupan.
Shobirin saerodji.
March 19, 2009.
05.48 WIB
Arrahmat.bjn.sch.id.








‘’seperti bermain gitar”
puisinya bgs bgt kq……
sip..sip…
yaa itulah kehidupan dengan dinamikanya yang membuat indah…
Pak…sebenarnya mau kasih komen,tapi berhubung tidak ngerti puisi jadi maaf.. Tapi bagus kok
Mendadak jadi ingat Dewa Budjana, Toh Pati, Balawan, Slash, Yngwe Malmstein (bingung nulise), Piyu, Andra, Eros, Terry Balsamo….
terkadang seniman gitar selalu pandai memprediksi melodi yang merdu yang akan di petik, tetapi sayang seniman kehidupan tak akan pernah tahu melodi cerita hidupnya,,karena pemain gitarnya selalu menyembunyikan not-notnya..sampai kita benar-benar sabar, dan tak cukup hanya berlabel sobirin untuk bisa menebak!!