kuserong ke kanan
kutabrak tembok cadas
aku terluka
aku ikuti lagi setapak jalan ini
kuserongkan ke kiri
kutubruk lagi dinding kegagalan
memaksa aku kembali melangkah ke depan
mengikuti anak tangga yang sempit ini
anak tangga yang terus mendaki dan sempit
tanpa cabang dan tikungan.
yang mengantarku sampai di sini
dengan cepat.
hebat..
aku air, hanya diam
dan hanya diam
tiba-tiba sampai di sini.
ditempat yang tinggi.
kemarin aku di tanah,
kemarin aku di bawah,
sekarang aku di sini
di batang ini
hanya diam mengikuti aliran kekuatan hebat
inikah kekuatan yang Tuhan beri nama, KAPILARITAS?
Bojonegoro, 7 Mei 2009










Kita memang mengikuti aliran. Tapi Allah memberikan kita banyak celah untuk mengalir..
sayangnya, aku merasa celah yang diciptakan untukku tidak terlalu banyak hanya sekedar palsmodesmata.
mo bilang apa?menyentuh banget
sudah bilang tuh : menyentuh banget.
Kenapa harus KAPILARITAS? Bukankah masih ada yang lain semisal DAYA TEKAN AKAR atau DAYA HISAP DAUN?
Cuman takon ae kok…
Sastra-biologi jilid III
# Fiz : secara biologi, iki konteks materinya adalah batang. jadi mekanisme yang bekerja untuk mengantar air ke daun adalah kapilaritas. Akar sudah pertemuan kemaren.
Secara Sastra-nya : mengapa tidak Daya tekan akar, karena sekarang posisiku bukan lagi di akar Fiz, rodok munggah titik. Mengapa bukan Daya Hisap Daun, karena [aku mengira] hidupku masih panjang. Belum terlalu dekat dengan ujung pohon-kehidupan ini.
# Pak Toni: Semoga saya bisa melanjutkannya lagi. mohon doanya.