
Lumrah,
kalau memang harus naik dan turun
namanya juga jalan pulang
Sesekali menikung sesekali kali lurus
tergantung pilih rute mana yang dimau
Lumrah,
karena memang medan yang dipilih begini
kadang tarik gas penuh, kadang rem diinjak kuat
apalagi ini jalan raya, bukan milik pribadi
sesekali mendahului, kadang juga didahului
Gusti, lumrah kan jika sekarang aku teristirahat di tepi jalan
karena ada pohon rindang yang menyejukkan,
karena perjalanan ini cukuplah jauh?
Gusti, lumrah kan jika kemudian aku tergesa-gesa melanjutkan perjalanan sambil mengumpati diri sendiri, karena tersadar bahwa aku terlalu lama terlena dalam istirahatku itu?
Gusti, aku ini kan hanya manusia lumrah seperti yang Njenengan Kersaaken
Aku yakin Engkau Maha Memahami kondisi mahluk lumrahmu ini.
Ar-Rahmat-Bojonegoro Ramadhan ke 9, 1432 H. Agustus 9, 2011 M









0 Tanggapan ke “Lumrah”