Susumu terbeli, leherku tertali.
Diterbitkan 24 Maret, 2012 Pikiranku, Pendidikan , Puisi Tinggalkan a KomentarBerbagai rupa takdir yang terjalani adalah bentuk kasih sayang Allah SWT.
terhadap hamba-Nya. (dari sudut pandang si-hamba) bisa menyenangkan, juga menyedihkan.
pun juga kasih sayang orang tua, (pada sudut pandang anak) ada yang menyenangkan juga menyakitkan.
kadang, orang tua hanya memilih cara mengasih-sayangi anak dengan cara yang menyenangkan anaknya saja, atau sebaliknya
seperti ada siang, ada pula malam. panas katulistiwa pun diimbangi dengan dingin di dua kutub.
keteraturan ciptaan Tuhan akan jadi petaka bagi mahluk jika keseimbangan itu tak terlakoni.
Shobirin Saerodji Bojonegoro- January 3, 2012Tetaplah baik, anakku (II)!
Diterbitkan 24 Maret, 2012 Pikiranku , Pikiranku, Pendidikan , Puisi Tinggalkan a KomentarKarena Tuhan sudah terlanjur menetapkan osmosis sebagai sunnatullahnya,
maka banyaklah meneguk, tapi kemudian ekskresikan sebanyak-banyaknya.
Karena duniamu sekarang sudah bukan air tawar lagi.
Sudahlah, mari kita berkarya lagi seperti kemarin-kemarin.
Biarlah mereka yg memeraninya. Kita ambil peran kita yg semestinya.
Jujur memang barang antik untuk ukuran dunia mereka yg sedang memasuki dunia kita.
Shobirin Saerodji February 27/28, 2012
Tetaplah baik, Anakku!
Diterbitkan 24 Maret, 2012 Pikiranku , Pikiranku, Pendidikan , Puisi Tinggalkan a KomentarMaafkan aku, anak-anakku.
Jika kamu masuk jurang neraka,
itu juga karena salahku, sebagai orang tuamu.
Ampuni aku, Tuhanku. Jika dengan seciut-dangkalnya pengetahuan hamba ini,
aku memutuskan bahwa : inilah yang terbaik untuk aku lakukan
untuk mengekspresikan fenotip unggul melalui manipulasi genetik relatif lebih sulit, maka mari memanipulasi lingkungan saja, anakku.
karena kata seorang profesor, selain mempengaruhi fenotip, lingkungan dapat pula memaksa genetik kita termutasi. Solo-Sobontoro, 17 Maret 2012 Shobirin SaerodjiShobirin Saerodji Sobontoro, Maret 2012
Mabuk dan Mengantuk
Diterbitkan 10 Januari, 2012 Catatan pertama , Pikiranku 1 CommentTag:dalam kendaraan, eksperimen, kota surabaya, mabuk, masuk angin, mengantuk, muntah, objek wisata, tertidur, tips
Dulu, waktu masih SD dan SMP saya adalah pengidap “penyakit” mabuk perjalanan. Dan menurut saya sudah dalam kategori akut.
Bukannya tanpa usaha mencegah, Antimo, minuman bersoda, menghindari makanan amis, sampai pada usaha konyol : memplaster pusar. (mungkin logikanya : mabuk itu perut mules, perut mules karena masuk angin, salah satu pintu masuknya ngin ke perut adalah pusar. biar tidak masuk angin maka pusar ditutup dengan plester. Jangan tertawa. Wallahua’lam). Semua usaha dan eksperimen itu tidak pernah sukses menghindarkan saya dari mabuk. Namanya juga akut.
Pernah suatu ketika saya menjadi duta lomba sekolah, saat itu berhasil melenggang ke tingkat propinsi. Maka saya harus melakukan perjalanan ke kota Surabaya. Karena penyakit saya itu, wal hasil, selama lomba saya tidak bisa banyak membantu menjawab peryatanyaan. Karena energi saya sudah habis bersama habis nya isi perut selama perjalanan 2,5 Jam. Dan kelompok kamipun, kalah. Pengalaman paling parah adalah ketika studi wisata kelas 2 SMP. Rasio waktu di dalam bis jauh lebih lama dibanding dengan menikmati waktu diobjek wisata . Maka perjalanan satu hari dua malam ke beberapa objek wisata luar propinsi itu benar-benar sukses menjadi kegiatan penyiksa saya.
Ketika saya mengajukan permohonan kepada orang tua untuk melanjutkan SMA yang agak jauh dari rumah, maka salah satu pertimbangan keberatan orang tua saya adalah kasihan, karena nanti akan mabuk kalau naik angkutan.
Ternyata saya tidak pernah mabuk selama 3 tahun naik angkutan umum yang membawa saya menempuh jarak 15 KM PP setiap hari. Walaupun pernah pusing karena terkadang harus duduk menghadap belakang, pada akhirnya saya lulus dengan predikat : tidak pernah mabuk dengan memuaskan.
Setelah latihan selama SMA itu, berangsur-angsur penyakit mabuk saya berkurang. Saya merasakannya ketika menikmati perjalanan Bus Surabaya-Kertosono, selama 4 tahun, semasa kuliah.
Salah satu tips sukses untuk menghindari mabuk dari saya adalah tidur. Logikanya sederhana, Ketika saya tidur maka saya tidak melakukan aktivitas lain, tak terkecuali mabuk. Obat-obatan seperti antimo mengandung dimenhydirinate punya efek sedatif (mengantuk). Dengan tidur saya tidak peduli dengan goncangan utrikulus dan sakulus dalam telinga, juga saya tidak dipusingkan dengan gerak semu pohon-pohon di pinggir jalan yang seakan-akan berlari cepat menjauh. dengan tidur saya tidak akan ada ketimpangan antara rasa dan gerakan. Dengan tidur di dalam bus maka saya tidak mabuk. Luar biasa.
Bagaimana agar bisa tidur di dalam bus? Antimo, atau obat tidur? No. Saya tidak suka obat. Saya punya tips tersendiri agar bisa tertidur di dalam kendaran. Pada awalnya bentuk usaha untuk bisa tidur di dalam bus adalah dengan melakukan ritual “begadang sampai pagi”. Hal ini bertujuan agar besok saya terpaksa mengantuk, dan secara ihlas tertidur. Dan itu di dalam bus.
Sekarang, bisa dikatakan saya jarang punya masalah dengan penyakit mabuk perjalanan. Tapi kemampuan saya tidur di dalam kendaraan terus mengalami perkembangan. Tidak hanya di dalam bus, dan kendaraan umum lain. Bahkan pada kendaraan pribadipun (sepeda motor) saya juga bisa berkendara dengan mengantuk dan (bahkan) sesekali tertidur.
Balyandra, Numpang Bahagia dan Solo
Diterbitkan 8 Desember, 2011 Catatan pertama , Pendidikan , Pikiranku , Pikiranku, Pendidikan , Wisdom 1 CommentTag:posting oktober tapi di post di desember
Fathi Balyandra Muhammad.
Tanggal 14 Juli 2011 kemarin adalah ulang tahun pertama pernikahan kami. Tiga hari sebelumnya kado luar biasa kami terima, seorang anak laki-laki yang sehat jiwa raga dan sempurna fisiknya. Lengkaplah sudah kebahagiaan kami. Kebahagiaan yang pasti diidam-idamkan oleh setiap suami-istri. Continue reading ‘Balyandra, Numpang Bahagia dan Solo’
Demi
Diterbitkan 28 November, 2011 Pikiranku 1 CommentTag:bapakku, dan orang-orang lain yang menyayangiku, emakku, istriku, kakakku, untuk anakku
Kekuatan sebuah cinta dan cita-cita yg berpijar pada jiwa,
mampu membawa jasad yang ringkih menembus belantara hutan,
ditengah pekatnya halimun dan gelegar halilintar.
Wahai para sang pencinta.
Aku menyambut cinta kalian dengan cinta yang tak terpucatkan suhu minus,
ataupun mendidihnya otak yang tak henti disengat bertubi-tubi impuls.
Inilah hidup.
Aku sangat merasa, hidup.
Nganjuk – Solo
November 24,2011 at 7:32pm
Ringkih
Diterbitkan 23 November, 2011 Pikiranku , Pikiranku, Pendidikan , Puisi , Status Facebook , Wisdom Tinggalkan a KomentarTag:banyak, flu, hidup, kecapekan, Puisi, sakit, tugas
raga ini hanyalah saripati tanah.
dan cenderung mengajak mendekat kembali ke hamparan tanah.
apalagi saat jiwa terrampas lelah.
pergi.
raga yang tinggal jasad ini terkulai.
ambruk.
Tuhan,
-kalau boleh- aku belum ingin istirahat.
ar-rohatu fii tabaadulil a’mal.Jadi sebenarnya dengan berpindah aktivitas kita sudah beristirahat. Kadang kita merasa capek bekerja di depan komputer, kemudian kita melaksanakan istirahat dengan bermain dengan anak kita, atau dengan tidur. dan itu semua itu adalah aktivitas. Maka mari kita beristirahat dengan berpindah ke aktivitas lain yang juga bermutu dan produktif. kita akan benar-benar beristirahat, mungkin setelah nanti ketika kita tidak memikirkan masa yang akan datang dan masa yang telah lalu. wallahu a’lam bisshawab.
istirahat itu di pergantian aktivitas / pekerjaan.












]} Komentarmu