Sebenarnya sudah lama aku ingin menuliskan kabar ini. Tapi karena adanya beberapa kesibukan tentang pernikahan dan tahun ajaran baru, jadi saya tidak bisa merealisasikan tulisan yang lama mengendap di pikiran.
Ini tentang titik ekstrapolasi berikutnya yang telah saya capai pada pertengahan tahun 2010 ini setelah capaian yang saya tulis 2 tahun yang lalu. Selama 5 tahun di kota Matoh ini.
Setelah Perunggu, Sekarang Perak
Tahun ini, siswa yang terpilih untuk menjadi delegasi SMP Plus Ar-rahmat bidang Biologi adalah Ahmad Maulana Iffan Akbas (7/ IX A).
Tahun 2010 ini adalah kesempatan kedua Maula untuk mengikuti seleksi OSN Biologi. Tahun 2009 kemarin, dibangku kelas 7 dia sudah berhasil lolos menjadi peserta perwakilan kabupaten. Sayangnya pada level propinsi tim biologi yang saat itu bersama Hendrian kelas 8 tidak berhasil lolos ke jenjang nasional. Di kesempatan ke dua ini tentunya maula sudah lebih siap dari berbagai sisi termasuk mental psikologi.
“Ngempet Rahmat”. Sebuah Pelajaran di Tahun 2009
Sebenarnya kegagalan di tahun kemarin (entah benar atau tidak) itu tidak lain karena murni kesalahan saya.
Begini ceritanya. Setelah keberhasilan raihan double medali perunggu tahun 2008, saya menjadi agak dikenal dikalangan guru-guru biologi SMP di sekitar. Sehingga pada tahun 2009 beberapa sekolah melamar saya untuk membina anak didiknya. Namun semua permintaan itu saya tolak karena logika saya mengatakan “bagaimana mungkin saya membimbing calon lawan murid saya sendiri?”. Bagaimana kalau nanti anak sekolah lain yang saya bimbing dikalahkan murid saya, pasti saya dikatakan tidak sungguh-sungguh ngajarnya. Kalau murid saya sampai kalah sama murid bimbingan saya dari sekolah lain, itu malah jadi bencana. Begitulah logika saya saat itu.
Setelah saya bimbing murid saya dengan fokus, tanpa terbagi dengan lembaga manapun, alhamdulillah tahun 2009 saya berhasil meloloskan 2 siswa di tingkat kabupaten, yaitu Hendrian (kelas 8 ) dan Maula (kelas 7).
Saya semakin yakin bahwa target ke nasional semakin mudah. Karena persiapan tahun 2009 ini jauh lebih baik dari pada persiapan Wawan dan Ryan (2008).
Tapi Allah berkehendak lain. Ternyata perhitungan saya mengenai peruntungan Hendriyan dan Maula meleset. Walaupun secara materi saya yakin bisa lolos, Allah berkehendak mereka tidak lolos ke tingkat nasional, dan justru yang lolos adalah murid dari sekolah yang saya tolak tadi.
Saya terpukul. Benar-benar terpukul. Saya renungi apa yang salah dari semua ini.
Secara tidak sengaja saya mendengar pengajian dari laptop, mengatakan “kalau kamu tidak mau mengajari ilmu yang engkau punya itu sama dengan “ngempet rahmate Gusti Allah” (menahan tersebarnya rahmat Allah: Ind).
Selang beberapa waktu setelah perenungan itu, saya dihubungi oleh guru pembimbing SMPN 1. Saya diminta memberi bimbingan untuk test praktik. Tanpa pikir panjang, saya langsung menyanggupi.
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menebus dosa saya. Murid bimbingan praktik saya berhasil memperoleh Medali Perak. Walaupun bukan murid sekolah saya sendiri tapi saya ikut puas. Terutama puas karena merasa telah menebus dosa penolakan saya.
Belajar dari kesalahan “Ngempet rahmat” tahun 2009 itu saya akhirnya menerima 3 sekolah lain yang meminta saya untuk membimbing persiapan OSN, yaitu SMP 2, SMP 1 dan SMP 2 Babat. Bahkan tidak hanya itu semua yang meminta tenaga saya untuk membimbing semua saya sanggupi. Sehingga saat itu folder data OFFICE di komputer saya ada 5 nama : Ar-rahmat (SMP Plus), SMAN Balen, SSC Bojonegoro, Al- Fatimah, dan SD Muhammadiyah Bojonegoro.
Walaupun tidak semuanya bertahan lama tapi paling tidak dalam masa September sampai januari 2009 itu adalah masa terpadat lembaga pendidikan yang saya geluti.
Lolos lubang jarum : Menuju Ke Nasional
Kuberitahu kawan, Seleksi yang paling saya takuti kegagalannya adalah seleksi tingkat provinsi menuju ke Nasional. karena bagiku ini adalah lubang jarum. Di level ini banyak menumbangkan jago-jago terbaik ar-rahmat. Seperti yang dialami tim fisika tahun 2008. Tim terbaik yang diatas kertas lolos ke Nasional, malah tumbang. begitu juga yang dialami tim biologi tahun 2009. Namun jika sudah lolos Provinsi, rasanya sudah sangat puas, entah nanti dapat medali ataupun tidak, itu belakangan.
Walaupun waktu saya otomatis berkurang sangat untuk membimbing Maula. Namun saya percaya Allah tahu usaha saya. Jalan untuk menuju ke roma ternyata tidak harus naik angkutan jurusan roma. Begitu pikiran saya. Biarlah saya banyak membimbing di tempat lain, doa saya adalah semoga keberkahan saya mengajar di tempat lain itu adalah berupa kemudahan maula belajar mandiri melebihi kemudahan belajar dengan bimbingan saya.
Saat itu saya sedang ngantor di SMA tiba-tiba SMS dari salah seorang wali santri mengucapkan “selamat bertanding di Medan”. Sayapun mengkonfirmasi kabar itu dengan menelpon Pondok, tenyata Ust. Sya’roni membenarkan kabar tersebut.. Sementara di bidang fisika Miftahul Firdaus juga lolos. Ar-Rahmat mengirimkan 2 santrinya ke tingkat nasional untuk ke 4 kalinya.
Musuh kompetisimu adalah Soal
Setelah tahun 2008 di Makassar, 2009 di Jakarta, OSN 2010 kali ini dilaksanakan di Medan Sumatera Utara. Sayangnya tahun ini saya tidak bisa mendampingi anak-anak bertanding dikarenakan tugas Negara yang saya emban di SMA.
Saya hanya bisa membekali anak-anak dengan motivasi-motivasi.
Kurang lebih yang saya sampaikan kepada mereka adalah:
Jangan anggap peserta lain itu musuhmu. Tidak usah berkompetisi dengan mereka. Musuhmu bukan mereka. Karena mereka itu teman kamu. Jadi berbuat baiklah dengan mereka, bersikaplah sebagai sahabat dengan mereka. Musuh yang harus kamu kalahkan adalah soal OSN. Jadi, kalau kamu sudah bisa mengalahkan soal. Mengerjakan sesuai dengan apa yang kamu kuasai, artinya kamu menang!. Itulah kemenangan. Kemenangan bagi kita adalah seperti itu. Sedangkan medali itu adalah efek samping dari kemenangan kita. Kalaupun kamu pulang tanpa medalipun, kalian sudah jadi pemenang!.
Mengerti, kalian?. Mereka berdua mengangguk dan manggut-manggut. Sepertinya kata-kata saya cukup meredakan beban yang mereka pikul.
Saya melepas mereka berdua di bandara juanda bakdal subuh bersama kontingen jawa timur. Setelah 4 hari sebelumnya mendapat TC dari Diknas Provinsi “Saya puas dengan TC tahun ini, anak-anak lebih siap” kata Pak Unang ketua Kontingen OSN-SMP Jawa Timur. Keep Fight!
Soal itu Teman, Ustadz
Ketika hari H, sebelum berangkat menuju lokasi lomba, Maula menelpon saya. Memang saya berpesan agar dia mengabari saya sebelum mengerjakan soal. Tujuan saya adalah saya ingin memberikan dukungan yang terkuat kepadanya, dengan cara menjadi orang yang terakhir berbicara dengannya sebelum dia bergelut dengan soal.
“hallo assalamualaikum” suara kecil dari speaker HP. “waalaikum salam. Gimana kabarnya ? sudah berangkat?” jawab saya.
“iya ustad ini sudah keluar hotel” suara ribut orang khas di dalam bus.
“ingat pesan saya?” Tanya saya mengevaluasi
Maula menjawab dengan agak berteriak “iya ustad saya ingat..” mungkin dia berpepet-pepet mencari tempat duduk di dalam bus. “apa pesan saya” gali saya. maula menjawab “ hehehhe… “
“ingat gak? “ agak tinggi saya, habis dibentak sekarang saya ganti membentak..
“ hehehe… ustad, saya mau Tanya boleh?” dalam hati “ eh ni anak ditanyain malah ganti mau tanya”.
“.. dulu kan ustad bilang kalau soal itu dianggap sebagai musuh… Bagaimana kalau begini ustad, saya ingin menjadikan soal itu sebagai teman?”
“ hahh… teman? Mengapa kok teman? Alasannya?” saya agak kaget, dapat pikiran apa lagi ni anak…
“ karena saya ingin seperti Tsubasa, dia menganggap bola itu sebagai teman! (diucapkan dengan mantab dan yakin)
Saya : eng..ngngngngngng….. uhm…. Ehm… ya…. Boleh lah… silahkan… (speechless!).
Ya udah selamat bergelut dengan temanmu, jangan lupa dibaikin itu teman kamu agar bisa membaiki balik kamu. Jangan lupa berdoa..”
“Iya ustad, terima kasih. Wassalamualaikum.” Maula mengakhiri panggilan telponnya.
“Waalaikum salam” jawab saya, sambil bergumam dalam hati, “ sebagai teman?, tsubasa?, ah… ternyata muridku sudah bisa berpikir seperti aku, bahkan lebih, diluar perkiraanku.”
Teman yang Baik
“ustad doakan, sekarang mau dibuka upacara penutupan” sms maula 1 jam yang lalu yang baru saya baca.
“iya, saya berdoa semoga kamu diberi kekuatan untuk menerima takdir”. Balas saya dengan sms pendek.
Belum berselang 1 menit. Hp saya ada tulisan, “Maula is calling…”
“hallo… “
“hallo…” jawab saya..
“Alhamdulillah ustad, dapat perak, kita berhasil!!!!!!” dengan suara teriak-teriak, gembira, backsound pembaca pengumuman di medan sana.
“Alhamdulillah, terima kasih anakku”.
Dengan keberhasilan ini saya semakin yakin, bahwa mengajar itu menyalurkan rahmat Allah. Kalau saya menolak, artinya menutup atau menghalangi tersebarnya rahmat Allah.
Atau juga bisa jadi teori maula benar, Teman yang baik, jika diperlakukan baik akan membalaskan kebaikan pula. Dan itupun juga berlaku untuk teman yang berbentuk; soal. (choby)
Bojonegoro, 30/9/2010
Shobirin Saerodji
Untuk Ulang Tahunku
Like this:
One blogger likes this post.
]} Komentarmu