Pilih Aku atau Roti Kering

PILIH AKU ATAU ROTI KERING

Cerita ini saya kutip (baca: jiplak) dari Kisah Syah bin Syuja’ dan Putra-Putrinya yang tertulis pada buku “Kisah Para Sufi” karya Wawan Susetya.

Syah bin Syuja’ adalah seorang sufi yang berasal dari keluarga bangsawan di kota Kirmani, sebuah kota di Persia, yaitu Abul Fawaris bin Syuja’ Al Kirmani yang biasa dipanggil Syah bin Syuja’. Ia memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Meskipun masih remaja keduanya mempunyai kecerdasan spiritual yang luar biasa. Ya barangkali memang mewarisi bakat ayahandanya itu.

Seorang putri Syah bin Syuja’ telah dipingitnya (tidak boleh keluar rumah) selama 20 tahun. Sesuai dengan usia putrinya tersebut. Kini, ketika usianya sudah 20 tahun para putra pejabat di kota Kirmani banyak yang datang untuk melamarnya. Sebagai orang tua, tentu saja Syah bin Syuja’ merasa senang banyak yang melamar putrinya. Tetapi, di sisi lain Syah bin Syuja’ merasa sedih dan bimbang, siapa jodoh putrinya itu yang sebenarnya? Maka kepada para putra pejabat yang melamar putrinya itu Syah bin Syuja’ meminta waktu 3 hari untuk memutuskannya.

Setelah Syah bin Syuja’ pergi menjelajah dari masjid ke masjid tibalah dia di salah satu masjid yang dipakai sholat salah seorang guru sufi. Syah bin Syuja’ kemudian segera menemui guru sufi tersebut.

“apakah engkau telah berkeluarga?”

“belum” jawab guru sufi tersebut

“maukah engkau seorang istri yang bisa membaca al-quran?” tanya Syah bin Syuja’

“ siapa yang mau menikahkan puterinya kepadaku? Harta kekayaanku hanya tiga dirham” jawab guru sufi tersebut.

“akan kuserahkan puteriku kepadamu” jawab Syah bin Syuja’

“dari tiga dirham yang engkau miliki itu, belanjakanlah satu dirham untuk roti, satu dirham untuk munyak mawar, dan satu dirham untuk pengikat tali perkawinan” lanjut Syah bin Syuja’.

Akhirnya mereka bersepakat. Malam itu juga Syah bin Syuja’ mengantarkan putrinya kerumah guru sufi itu. Keduanya pun di nikahkan. Kini keduanya telah menjadi suami isteri.

Ketika memasuki pojok rumah sang suami , putri Syah bin Syuja’ melihat sepotong roti kering di dekat sebuah kendi berisi air.

“roti apakah ini?” tanya nya kepada suaminya

“roti kemarin yang kusimpan untuk hari ini” jawab guru sufi

Mendengar jawaban itu, tiba-tiba si gadis hendak meninggalkan rumah guru sufi tersebut. Guru sufi pun pasrah seraya berkata:

“ sudah kusadari bahwa Syah bin Syuja’ tidak akan sanggup hidup bersamaku yang miskin ini”

Putri Syah bin Syuja’ menjawab “ aku meninggalkanmu bukan karena sedikit hartamu, tatapi karena sedikit iman dan kepercayaanmu sehingga engkau menyimpan roti kemarin dan tidak percaya bahwa Allah akan memberi kamu rezeki setiap hari” kata putri Syah bin Syuja’ dengan serius.

Guru sufi tersebut sangat terkejut mendengar jawaban isterinya. Ada seorang perempuan yang jauh lebih tinggi berserahdirinya kepada Allah.

Setelah terdiam sejenak ia melanjutkan perkataanya, “ aku jadi heran kepada ayahku, 20 tahun lamanya ia memingitku dan mengatakan akan kunikahkan engkau dengan orang yang bertakwa kepada Allah, tetapi nyatanya ia menyerahkanku kepada seseorang yang tidak pasrah kepada Allah untuk makanannya sehari-hari”

“apakah kesalahanku ini bisa diperbaiki?” guru sufi bertanya

“bisa” jawab putri Syah bin Syuja’. “pilihlah satu diantara dua, aku atau roti kering itu!”.

Apa yang bisa kita petik hikmah dari cerita tentang Puteri Syah bin Syuja’ di atas?

Mari kita pahami bersama-sama :

  1. Syah bin Syuja’ tidak mencari menantu yang kaya akan harta dan kedudukan tinggi, untuk keselamatan (iman) puterinya Dia berani memilih Jejaka yang hanya memiliki harta 3 dirham saja untuk menikahi puterinya.

`Saya tertarik dengan tulisan ini bukan karena saya juga jejaka yang tidak punya banyak harta, kemudian memuat cerita ini agar ada orang tua yang mau menerima saya sebagai menantu karena ketidakpunyaan harta. Bukan! Tetapi mari kita lihat, masa-masa sekarang sepertinya orang-orang tua memang perlu meluruskan lagi niat menikahkan putri ataupun putranya agar tidak hanya melihat status sosial dan ekonomi saja sebagai dasar penentu pencarian menantu. Tetapi juga Keimanan dan ketaqwaan seorang suami sebagai calon pemimpin keluarga ataupun kesalehahan istri sebagai calon pendidik anak-anaknya nanti.

  1. seorang wanita yang telah tertata hatinya menjadi hamba yang qanaah, tawakkal tingkat tinggi seperti puteri Syah bin Syuja’ pada zaman sekarang ini seakan-akan sudah langka. Kalau melihat penampakan luarnya saja (perempuan usia 20 tahunan), saya pribadi merasa saat ini sulit menemukan wanita yang mampu menjaga kehormatan diri sebagai seorang wanita. Jangankan di pingit untuk menghindari pandangan dengan pemuda lain, berpakaian saja seolah-olah perempuan-perempuan banyak yang seolah-olah menantang agar dirinya di lihat oleh para pemuda. Sehingga berlomba-lomba bagaimana agar kehormatan berupa kecantikan atau kemolekan seorang wanita bisa dilihat laki-laki sebanyak-banyaknya. naudzubillah.

`Memang kita bukanlah sufi semacam Syah bin Syuja’ ataupun putri dan menantunya, karena kadar keimanan kita masih jauh di bawahnya, tetapi, dengan melihat jalan lurus yang mereka contohkan dan seharusnya kita lewati maka kita akan tersadar, berapa derajat penyimpangan yang telah kita jalani. Sehingga walaupun -mungkin- saat ini kita masih terlalu berat untuk memutar setir kendali ke jalan yang benar, tetapi kita sadar dengan ketersesatan kita dan akhirnya kita akan memohon, berharap, menyerah, bertaubat, kepada Allah agar kita diarahkan ke jalan yang benar.

Wallohu a’lam bisshowab.

© shobirin~07

9 Responses to “Pilih Aku atau Roti Kering”


  1. 1 Toni 25 Agustus, 2007 pukul 4:32 am

    Terus foto di atas?

    foto itu hanya bukan siapa-siapa koq pak, cuman pajangan saja..itupun nemu…

  2. 2 arif 17 Januari, 2008 pukul 3:50 am

    Itu foto dapat dari siapa dan dimana. namanya siapa

  3. 3 arif 17 Januari, 2008 pukul 3:51 am

    itu foto namanya siapa. orang mana tuh

  4. 4 baggio 24 Februari, 2008 pukul 8:31 am

    gw ga ngerti. roti kemaren yang ia simpan, secara filosofis pun gw kurang sepakat jika dimaknai dengan ketidakpasrahan kepada Allah. bukankah itu berarti ia mempersiapkan sesuatu untuk masa depan. ah… jangan terlalu dipikirkan. intinya, kenapa laki-laki harus menjadi lemah. toh kalo kita berpikir tentang ibadah, seorang yang tidak menjaga auratnyapun tidak haram untuk kita nikahi, masalahnya adalah mampukah kita menagarahkan/membimbingnya menjadi seroang wanita yang soleh (termasuk menutup auratnya). bukankah itu berarti kita mengajak orang-orang yang khilaf kembali kepada jalan yang benar menurut agama. dan… bukankah itu sekaligus TANTANGAN seberapa kuat seorang laki laki mampu berdakwah.

    moga aja gw juga bisa melakukannya….
    insa Aloh

  5. 5 bob 28 Maret, 2008 pukul 12:10 am

    XZzP4i great site man thanks http://peace.com

  6. 6 saya 28 April, 2008 pukul 5:55 am

    YG DIATAS itU pHOTo SIaPA SIch?????

  7. 7 nedya 21 Mei, 2008 pukul 2:03 pm

    yang diatas itu foto u yah…..

  8. 8 ainul 5 September, 2008 pukul 2:22 pm

    coment “baggio” is ok…lihat lagi disekitar kita….banyak wanita/pria keluaran pesantren yg berubah keluar dari ajaran di pesantrennya dulu,dan tidak sedikit wanita/pria yg biasa atau lebih rendah dari biasa yang bisa berubah melebihi anak pesantren,itu tergantung bagaimana kita bisa mengarahkannya,apalagi seorang lk yg punya kekuatan lebih untuk bisa mengatur istrinya dengan tidak mengabaikan hak sang istri,ingat TIDAK ADA MANUSIA SEMPURNA DI DUNIA INI.

  9. 9 fotos de sexo duro 8 Maret, 2009 pukul 9:33 am

    My site is great, mujeres buscan sexo, attpv, putas fazendo sexo, bew, jovencitas y abuelos sexo, 8-]],


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




]} Qolbu Berbisik

qbfot


Sebelum semuanya berlalu ...

Semua yang ada di sini kebanyakan hanya pikiran-pikiran yang ada di otakku, kemudian aku tuangkan. Jadi mungkin banyak yang kurang berkenan dengan pengetahuan, perasaan atau keinginan anda mohon dipermaklumkan.

slide-1_3.jpg
image source : http://www.gusdur.net/

Selamat Jalan Gus Dur

Beribu terima kasih terucap untukmu
Engkau pergi setelah meninggalkan keteladanan hidup yang agung

Tak mudah kami mencatat,
Karena engkau telah menempuh jalan kebangsaan yang panjang
Karena engkau tak pernah henti menyalakan lentera kemanusiaan

Jasadmu boleh sakit dan pergi, tapi ruh dan semangatmu terus hidup bersama kami

Hiduplah dalam damai di kampung kedamaian

Selamat jalan Gus Dur...

Puisi oleh: Kang Yoto-Kang Harto (Bupati-Wabub Bojonegoro) disadur dari Radar Bojonegoro, Jumat 1 Januari 2010).

Coba-coba cari uang online!

}}Polling

]} Tulisanku Semuanya

]} Tamuku

  • 185,221 Pengunjung

Flickr Photos

DSC04759

DSC04736

DSC04725

Di Bantimurung

DSC04720

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: