Di sini yang dulu kita anggap di sana

Di sini yang dulu kita anggap di sana

(Kegalauan sebuah Kebersamaan)

 

Adakah kau lihat  jingga di ufuk sana?

Kulihat keindahan padanya

Memaksakan inginku untuk berlari

Mengejarnya…

 

Aku tidak melihatnya

Yang kulihat hanya warna hijau

Yang tua sampai menjadi muda

Yang membuatku damai dan mengajakku

Melangkah kesana…

 

Ku lihat indah

Kau lihat damai

Ufukku ada di sana

Hijaumu juga ada di sana

Dan kita masih di sini…..

 

Oh …

Ternyata damai dan indah kita

Ada di sana

Kita harus ke sana

Bersama …

 

Kenapa engkau berhenti?

Indahku masih jauh

Aku harus berlari …….

Sebelum dia kabur

 

hijauku di pelupuk mata

damaiku sudah kuraih

mengapa aku harus terus berlari?

 

Kita berangkat bersama

Indah dan damai kita sama di sana

Aku masih berlari

Mengapa engkau sudah terlelap?

Apakah kebersamaan kita

Hanya berakhir di sini?

 

Di sini yang dulu kita anggap di sana?…

 

10.59 WIB

@ Lobby_Ar-rahmat_Bojonegoro, 17 Oktober 2005

kemanakah arah nahkodamu dan dermaga mana yang menjadi labuhanmu?

0 Responses to “Di sini yang dulu kita anggap di sana”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




]} Qolbu Berbisik

qbfot


Sebelum semuanya berlalu ...

Semua yang ada di sini kebanyakan hanya pikiran-pikiran yang ada di otakku, kemudian aku tuangkan. Jadi mungkin banyak yang kurang berkenan dengan pengetahuan, perasaan atau keinginan anda mohon dipermaklumkan.

slide-1_3.jpg
image source : http://www.gusdur.net/

Selamat Jalan Gus Dur

Beribu terima kasih terucap untukmu
Engkau pergi setelah meninggalkan keteladanan hidup yang agung

Tak mudah kami mencatat,
Karena engkau telah menempuh jalan kebangsaan yang panjang
Karena engkau tak pernah henti menyalakan lentera kemanusiaan

Jasadmu boleh sakit dan pergi, tapi ruh dan semangatmu terus hidup bersama kami

Hiduplah dalam damai di kampung kedamaian

Selamat jalan Gus Dur...

Puisi oleh: Kang Yoto-Kang Harto (Bupati-Wabub Bojonegoro) disadur dari Radar Bojonegoro, Jumat 1 Januari 2010).

Coba-coba cari uang online!

}}Polling

]} Tulisanku Semuanya

]} Tamuku

  • 185,221 Pengunjung

Flickr Photos

DSC04759

DSC04736

DSC04725

Di Bantimurung

DSC04720

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: