GABAH :: Si Salik yang Suluk

.:perjalanan menuju kesempurnaan:.

Aku dilahirkan dalam keluarga besar. Keluarga Sativa. Keluarga Sativa adalah anggota genus Oryza. Aku sebut keluarga besar karena dalam waktu kelahiranku, puluhan ataupun mungkin ratusan butir sudaraku juga terlahir. Tentunya bukan lahir dalam arti sebenarnya seperti para mammalia. Ketika aku dan saudara-saudaraku mulai terlahir, tentunya Majikanku gembira sekali. Sedangkan aku memulai takdirku di sini. Menjalankan fitrahku dan nenek moyangku untuk memberi manfaat bagi heterotrofik herbivora ataupun heterotrofik omnivor. Menyampaikan sebuah amanat dari pencipta kami, yaitu ; menyampaikan pesan atau amanat yang khusus dititipkan kepada keluarga kami secara turun temurun kepada mereka. Dan pesan itu harus kami sampaikan dengan sebenar-benarnya sebagai wujud sifat amanah kami. karena Tuhan sudah mempercayai keluarga kami untuk menerima amanat ini.

Masa mudaku kulewatkan dengan mendongakkan kepala.

“akulah mahluk Mu yang paling bermanfaat bagi kehidupan. Karena tanpa aku, tidak ada Fried Rice Special Jeroan, Nasi Pecel Tumpang gayeng, Sego kucing, sego saduk, sego bantingan. Dan yang pasti tanpa aku, orang jawa tidak akan merasakan nikmatnya sego liwet lan sambel klopo parutan cos!”

Angin mengajakku ke selatan. Aku dan saudara-saudara ku terbawa lembutnya sang bayu menuju tempat majelis ilmu. Wuih…. banyak pengetahuan kudapat. Aku lebih pintar sekarang. Ternyata kehadiranku di dunia ini membawa berjuta-juta manfaat bagi siapa saja. Aku mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh mahluk lain. Kelebihanku adalah; kami termasuk pembawa amanat Tuhan berupa kandungan gizi yang sangat dibutuhkan heterotrof omnivor itu. Mereka sangat tergantung dengan kami. Kandungan Karbohidrat kami sangat mereka cari. Dan kami menempati urutan tertinggi kebutuhan pokok sehari-hari kebutuhan mereka. Tidak seperti mangga yang ada di pojok pematang, atau kumpulan pisang yang ada di seberang sana. Apa jadinya heterotrof omnivor jika kami tidak ada.

Setelah dari selatan, sang bayu menggiring kami pelan-pelan ke utara. Gerakan pelan-pelan dan lembut kami seakan-akan melambai-lambai siapa saja yang melihat kami. Dan mereka pasti akan bahagia jika melihat kami seperti ini. Di sebelah utara sana ada cangkrukan. Oh.. Ternyata, kebersamaan adalah asset yang mahal. Pisang yang bergerombol di sana. Mereka sedang bergembira, karena setelah melewati masa-masa sulit akhirnya mereka sampai juga masa tuanya. Mereka sedang merayakan pesta masaknya salah satu saudaranya dengan minum-minum dan makan-makan spesial, bermacam-macam makanan mereka santap. Suplai makanan ke daun dan ke batang sudah tidak begitu diprioritaskan. Mereka pasti melakukan itu ketika salah satu saudaranya masak. Karena menurut mereka itu adalah tanda bahwa sebentar lagi Majikannya- heterotrof akan memanen mereka. Dan akhir tugas mereka semakin dekat. Artinya dia akan semakin cepat bertemu dengan Sang Pemberi Pesan. Mereka tertawa lepas, tidak ada raut duka pada mereka. Walaupun dalam satu keluarganya ada yang berwajah sempurna dan ada yang buncit kecil dan jelek. Tetapi mereka semua bergembira. Karena walau bagaimanapun keadaan mereka, mereka yakin jika sang majikan memanennya, pasti mereka semua akan berhasil menyampaikan amanat kemuliaan keluarga mereka. Hanya masalah waktu saja yang munkin berbeda. Mereka bahagia bersama. Kebersamaan yang indah.

Sementara di seberang pematang, aku melihat kesendirian yang menyayat. Sang melon, ya sang melon. Takdir selalu membawanya kepada kesendirian. Ketika mulai beranjak remaja dia harus rela kehilangan saudara-saudaranya. Dan yang paling menyedihkan hati, pengorbanan saudara-saudaranya adalah semata-mata agar dirinya bisa tumbuh dengan sempurna. Setelah cukup usia remaja, keluarga melon akan menentukan siapa yang akan mendapat kemuliaan untuk melanjutkan perjalanan membawa amanat berupa rasa manis khas keluarga melon kepada majikannya. Karena amanat tersebut hanya akan tersampaikan dengan haq jika pengembannya hanya satu buah saja, tidak lebih. Jika lebih, maka kadar kebenaran amanat tersebut sudah berkurang. Maka Setiap melon yang berabjak dewasa, harus rela mati demi tersampainya risalah yang dibawanya dengan benar. Dan melon di seberang pematang ku adalah melon yang ditakdirkan sebagai pembawa amanah tersebut. Dia baru saja tadi pagi melihat saudara-saudaranya gugur demi tugas mulia yang sekarang dia emban. Walau bagaimanapun semua melon pasti akan merasakan takdir ini. Itulah takdir kesendiriannya. Dan aku… melihat dari tempatku merasa beruntung, masih saja berkumpul bersama saudara-saudaraku sampai saat ini.

… 45 derajat angel yang terukur, aku bergeser condong kearah timur. Sinar Matahari itu memaksa aku untuk selalu menyapanya. Hari sudah pagi. Aku harus menyiapkan diri bertemu dengan Majikan. Dengan memasang wajah segar, dan hijau.

Siang yang biasanya menggairahkan, kenapa hari ini sendu. Dari utara Sang bayu datang dengan garang…menggandengku dengan berlari cepat. Ke selatan-ke utara-kebarat-ketimur-ke utara lagi-berputar-putar. Aku berpegangan sekuat tanagaku agar aku tidak gugur dari tangkai bulir ini. Sang bayu sedang berputing beliung. Puting beliung adalah kelakuannya yang ditampakkan jika dia tersakiti oleh pertengkaran antara suhu, tekanan, kelembaban udara dan iklim yang semakin tercerai-berai. Sang bayu dengan beliungnya tak lagi melihat kami sebagai saudara. Kulihat saudara-saudaraku menjerit-jerit ketakutan apakah yang sedang terjadi. Apakah takdir kami seperti sang melon?. Saudara-saudaraku masih saja menjerit dengan hebat. Sementara aku memejamkan mata. Aku terasa mau muntah. Semua yang ada padaku tidak bisa aku andalkan. Ilmuku, hijauku, tinggiku, kemuliaanku, semuanya tidak mampu membuat aku merasa aman dari seretan dahsyat sang bayu ini. Tiba-tiba semuanya seperti tidak berarti apa-apa. Ganas….luluh lantak paman, bibi, tetangga-tetanggaku. Mereka tergeletak tak berdaya. Ada yang sampai tercerabut bersama rumah-rumahnya. Dan beberapa saudaraku tercecer di tanah dan beberapa lagi musnah terbawa beliung yang membubung. aku masih di sini. Tegar. Walaupun air mataku mengikuti kepergian beberapa saudaraku yang tercecer di atas tanah.

Aku mampu bertahan sampai saat ini. Takdir masih memilihku untuk membawa amanat keluargaku. Aku baru menyadari ternyata aku segala seuatu yang ada padaku tidak akan membawa madhorot dan manfaat apa-apa. Semua yang terjadi bukan karena keadaanku. Tetapi karena ketetentuan yang sudah digariskan Sang Maha Pengatur Hidup bahwa sampai saat ini aku masih belum boleh gugur. Aku harus melanjutkan perjuangan, menuntut ilmu. Untuk membawa amanat keluarga kepada majikanku. Selayaknya amanat yang dibawa sang melon. Maka amanatku harus benar-benar valid. Tidak boleh berubah sedikitpun. Akau harus menyampaikannya dengan sempurna. aku akan berusaha menjadi diri yang terbaik. Walaupun aku tidak tahu apakah takdirku akan membawaku sampai pada majikanku, ataukah sang bayu besok akan mencabutku dari bulir tugas mulia ini. Aku tidak peduli. Kesempatan lolos dari puting beliung tadi sudah cukup sebagai alasan aku berusaha menjadi yang terbaik sebagai rasa syukurku kepada Tuhan. Tapi aku tidak dapat berbohong bahwa pikiranku menginginkan, aku berhasil menjadi pembawa amanat ini sampai pada majikanku. Dengan tingkat kebenaran yang Haq. Tetapi aku tidak berdaya…

Tiba-tiba aku menangis… tanganku tengadah, sementara kepalaku…tiba-tiba menunduk.

(bersambung)…

2 Responses to “GABAH :: Si Salik yang Suluk”


  1. 1 Mulyadi 15 Mei, 2009 pukul 12:57 am

    Alhamdulillah, mohon lbh byk tulisanny, agar insyaAllah lbh dpt membuka mata hati, menyadari jati diri. Amin.
    Mtnw
    Wassalam

  2. 2 Chandra 27 Februari, 2013 pukul 4:03 pm

    Bagus skali, saya selalu mencontohkan pisang kpd “murid”, sebelum brbuah biarpun terus ditebas akan tetap memunculkn pokok. Tp jika sdh brbuah dan matang, tanpa disuruhpun dia akan mati. Kewajiban dia untuk ‘hidup bermanfaat’ sudah selesai.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




]} Qolbu Berbisik

qbfot


Sebelum semuanya berlalu ...

Semua yang ada di sini kebanyakan hanya pikiran-pikiran yang ada di otakku, kemudian aku tuangkan. Jadi mungkin banyak yang kurang berkenan dengan pengetahuan, perasaan atau keinginan anda mohon dipermaklumkan.

slide-1_3.jpg
image source : http://www.gusdur.net/

Selamat Jalan Gus Dur

Beribu terima kasih terucap untukmu
Engkau pergi setelah meninggalkan keteladanan hidup yang agung

Tak mudah kami mencatat,
Karena engkau telah menempuh jalan kebangsaan yang panjang
Karena engkau tak pernah henti menyalakan lentera kemanusiaan

Jasadmu boleh sakit dan pergi, tapi ruh dan semangatmu terus hidup bersama kami

Hiduplah dalam damai di kampung kedamaian

Selamat jalan Gus Dur...

Puisi oleh: Kang Yoto-Kang Harto (Bupati-Wabub Bojonegoro) disadur dari Radar Bojonegoro, Jumat 1 Januari 2010).

Coba-coba cari uang online!

}}Polling

]} Tulisanku Semuanya

]} Tamuku

  • 185,221 Pengunjung

Flickr Photos

DSC04759

DSC04736

DSC04725

Di Bantimurung

DSC04720

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: