Malang, Antarkan Aku Ke Sana

EFEK tulisan Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata beserta tetraloginya beberapa waktu silam masih sangat kentara. Menebali lagi keberanian membangun impian untuk menjelajah di negeri asing, yang saya semai sejak membaca Kumpulan cerpennya Kang Sobary Mohamad dan Kuntowijoyo.
Saya-yang entah mereka ingat atau tidak– semenjak membaca novel Laskar Pelangi itu sering memompakan semangat kepada mereka untuk belajar ke luar negeri. Seiring berjalannya waktu, anak-anak didikku SMP dulu, sudah lulus SMA di sekolah-sekolah pilihannya. Ada 2 anak  yang sudah berkesempatan menjadi Mahasiswa di Turki, satu di Jepang, satu di US, satu di Perancis, dan satu di Mesir. Saya bangga dan bahagia, dan diam-diam saya sedikit iri.
Keluarga istri saya terdapat tiga laki-laki, satu bapak dan dua adik. Bapak dan satu adik, beberapa waktu lalu (mendapat hadiah dan tugas dari kantornya) berkesempatan ke Mesir, Singapore dan Thailand, sedangkan Adik bungsu saya, yang kelas akhir SMA sudah bersiap-menembus beasiswa ke Jepang. Tinggal saya, yang diam-diam telah menyemai impian dan tumbuh subur, belum ada gambaran jelas lewat jalur mana impian keluar negeri. Buram.

Berawal dari sebuah tag dari seorang teman di Facebook, malam itu, saya menerima Informasi seleksi beasiswa S2 Pemerintah Provinsi untuk Guru SMA/SMK Jawa Timur. Entah mengapa, Saya berketetapan hati, inilah kesempatan yang saya tunggu-tunggu. Ini kutipannya kawan;

“Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Timur, …… bla bla bla…. Bantuan biaya pendidikan selama 2 tahun ini akan diberikan kepada 183 orang guru yang lulus seleksi, untuk menempuh studi 3 (tiga) semester di dalam negeri dan 1 (satu) semester di luar negeri (China/ Thailand / Filipina)

Wow, satu semester di luar negeri, its sound so sexy. Sejak malam itu, waktu malam terasa lama menuju pagi. keburaman impian sedikit tercerahkan.

Bagi PNS ternyata bukan perkara mudah untuk sekedar mendaftar saja. Setelah menghadap Bapak Kepsek, saya diperintahkan untuk minta ijin secara lisan kepada pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten. Alhamdulillah, setelah dipingpong sana sini, akhirnya saya mendapatkan ijin untuk sekedar mendaftar. Setelah jelas perijinan secara lisan, akhirnya saya berhasil “menghasut” beberapa kawan guru untuk mengikuti seleksi. sayangnya dari, 3 orang yang saya ajak, hanya satu yang berhasil lolos untuk mendaftar, satu gagal mendapat ijin suaminya, satu lagi, lolos ijin suami, tapi tidak lolos ijin Kepseknya.
Saya dan satu teman guru biologi berhasil saya yakinkan sepenuh setengah hati untuk mengikhlaskan Tunjangan Satukali Gaji-nya hangus ketika nantinya lolos seleksi ini. Selain kami berdua, ada 4 peserta lain se Kabupaten Bojonegoro. Dengan sedikit koordinasi, 6 orang peserta dari Kabupaten Bojonegoro berangkat test ke Kota Malang untuk mengadu nasib.

Seperti tes seleksi masuk perguruan tinggi waktu S1 dulu, saya tetap tergagap-gagap mengerjakan soal essay biologi, bahasa Inggris dan Kemampuan Berpikir Ilmiah yang berlembar-lembar. Walaupun sudah memohon doa restu dari Ibu, Istri dan Kakak-kakakku (via sms) tak dapat kusembunyikan dari pikiranku, tes seleksi ini bukan perkara ringan.

Kita sudah sangat tahu kawan, banyak orang yang rela menghabiskan uang dan waktu untuk membayar tiket tantangan-tantangan di wahana-wahana permainan taman-taman bermain. Esensinya menurutku, yang mahal adalah sensasi berdebar-debar dan kepuasan setelah menaklukkan tantangan itu. Dari sisi keimanan, pada saat merasakan sensasi berdebar-debar itu akan membuat kita tiba-tiba ingin kian dekat dengan Tuhan. Tiba-tiba kita rajin merayu-rayu dan memanjatkan doa-doa kepada Tuhan. Sensasi berdebar mahal itulah yang saya nikmati selama kurang lebih 20 hari setelah pulang tes seleksi itu. Hampir setiap hari pengumuman yang ditunggu di website tendik-jatim saya akses. Setiap putaran tanda panah loading pada browser adalah sensasi debaran-debaran yang nikmat dan penuh doa.

Arai, sang simpai keramat, salah satu tokoh utama dalam Sang Pemimpi dan Edensor-nya Andrea Hirata, pernah berkata “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”. Saya mulai percaya, kata-kata Arai, Setelah lepas magrib petang itu, debaran-debaran dan doa dijawab dengan terpampangnya nama satu-satunya pemberian orang tuaku pada urutan ke 9. Alhamdulillah. Ah, Madu Kawan. Manis.

Setelah menyemai impian sekedar pergi keluar negeri beberapa tahun silam, sekarang sudah mulai terlihat harapan untuk memanennya, walau masih muntup-muntup. Malang antarkan aku ke sana. (sbr)

0 Responses to “Malang, Antarkan Aku Ke Sana”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




]} Qolbu Berbisik

qbfot


Sebelum semuanya berlalu ...

Semua yang ada di sini kebanyakan hanya pikiran-pikiran yang ada di otakku, kemudian aku tuangkan. Jadi mungkin banyak yang kurang berkenan dengan pengetahuan, perasaan atau keinginan anda mohon dipermaklumkan.

slide-1_3.jpg
image source : http://www.gusdur.net/

Selamat Jalan Gus Dur

Beribu terima kasih terucap untukmu
Engkau pergi setelah meninggalkan keteladanan hidup yang agung

Tak mudah kami mencatat,
Karena engkau telah menempuh jalan kebangsaan yang panjang
Karena engkau tak pernah henti menyalakan lentera kemanusiaan

Jasadmu boleh sakit dan pergi, tapi ruh dan semangatmu terus hidup bersama kami

Hiduplah dalam damai di kampung kedamaian

Selamat jalan Gus Dur...

Puisi oleh: Kang Yoto-Kang Harto (Bupati-Wabub Bojonegoro) disadur dari Radar Bojonegoro, Jumat 1 Januari 2010).

Coba-coba cari uang online!

}}Polling

]} Tulisanku Semuanya

]} Tamuku

  • 194.594 Pengunjung

Flickr Photos


%d blogger menyukai ini: