Archive for the 'Catatan pertama' Category

Jalan Berliku Menuju Makassar (2008)

Ini repost tulisan Saya tahun 2008 yang saya post di blog sebelah. Barusan inget kalau punya blog tersebut. Dulu memang tidak Saya post di sini karena berbagai pertimbangan, salah satunya karena sungkan. Berhubung sekarang sudah tidak sungkan (hehehe) maka saya beranikan diri post di sini. Meskipun puuuuanjang akan tetapi saya suka tulisan ini.
Semoga tidak dibaca. Hehehe.

SEPERTINYA aku memang dipaksa untuk menjadi orang yang pesimistis. Tuhan tidak akan membiarkan aku sok mengatur, sok kuasa, dan sok “kun” yang kemudian “fa yakun”. Tidak ada alasan yang akan membuat aku menjadi orang optimistis. Menjadi orang yang selalu yakin, terlena dengan kemampuan semu diri. Terlalu percaya diri dengan kemampuan prediksi dan kesombongan penghitungan masa depan. Tuhan tidak akan membiarkan aku demikian. Allah Maha Mengatur Segala Sesuatu dan Allah Maha Mengetahui segala kebutuhan hamba-hambanya.

Surat undangan dari Science center ITS aku terima tadi pagi. Sedangkan isinya sudah aku terima beberapa hari yang lalu melalui email dari Dosen ITS juga dari SMS teman guru se-pelatihan tahun kemarin. Aku pun segera mempersiapkan diri untuk menyeleksi beberapa anak binaanku untuk berangkat test ke rayon Lamongan. Aku tidak ingin kejadian tahunlalu terulang, aku sangat malu. Bagaimana tidak muridku biologi tidak lolos seleksi, sedangkan aku gurunya bisa lolos. Di sisi lain memang aku berhasil. Tapi di sisi lainnya hal itu bisa diartikan bahwa aku masih belum bisa mengajar dengan baik. Aku masih belum bisa mentransfer pengetahuanku kepada anak didikku. Dan tugas yang lebih menyakitkan adalah harus membimbing murid dari sekolah lain yang lolos seleksi untuk aku antarkan menjadi juara di kabupatenku. Aku malu kepada lembagaku, aku malu kepada pimpinanku-kepala sekolah. Aku tidak ingin itu terjadi lagi. Sudah kusiapkan selama satu semester melalui wadah pengembangan diri Science Club yang lebih intensif dan fokus di biologi.

Aku sendiri juga secara mental sudah mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi test. Hanya persiapan mental saja, walaupun secara materi aku juga masih harus banyak belajar sebenarnya. Tapi tidak ada waktu untuk membaca-baca materi lebih banyak karena tugas di pondok dan di sekolah benar-benar membuat aku tidak bisa membagi waktu. Sebenarnya menjadi beban menanggung malu juga jika nanti anak-anakku lolos seleksi sementara gurunya tidak lolos seleksi. Wah, bisa malu juga. Tapi itu lebih baik bagiku, aku lebih siap menerima takdir itu dari pada seperti kejadian tahun lalu.

***

Petang setelah sholat magrib,

“ini Pak Basuki, ada surat permohonan pendelegasian dari Science Center ITS. Di sini di jelaskan kuota anak maksimal 5 per mata pelajaran, kita mengirimkan berapa Pak?”

“ya nJenengan sama Pak Wahab sudah punya jago berapa?”

“sudah ada 5 Pak”

“tapi kalau mengirimkan 5 per-mata pelajaran berarti nanti 15 anak, “Kijang”nya tidak muat untuk 15 anak Pak, dan biaya nya nanti juga cukup banyak”

“ya ndak apa-apa Bus kan juga banyak Bojonegoro – Lamongan, naik us juga bisa kan?”

“oh iya Pak, bisa”.

“trus ini untuk gurunya juga ada Pak testnya, guru yang tahun kemarin lolos masih diperbolehkan ikut lagi”

“lha menurut Pak Birin kira-kira masih perlu ikut apa tidak, kan tahun kemarin sudah, apa materinya kira-kira menurut hemat Pak Birin masih sangat diperlukan?”

Aku terdiam. suara anak-anak kelas 9 mengaji di dalam musholla menggangguku berpikir. aku masih terdiam tidak menjawab.

“ya nanti ganti Pak Yono yang belum pernah ikut, Pak Birin dan Pak Wahab kan sudah pernah ikut, biar gantian yang merasakan pengalaman, kalau Pak Birin sama Pak Wahab kan sudah mempunyai pengalaman banyak di bidang pembinaan olimpiade ini”

“nggih, Pak”

Anak-anak kelas 9 sudah selesai mengaji di musholla. mereka kemudian gemruduk berlarian mengambil piring untuk rebutan antrian makan malam.

Aku terdiam lagi, dan berpikir. Kemudian kecewa.

***

Jamaah isya’ hanya tersusun tiga shof itu menandakan bahwa yang berjamaah hanya kelas 9, sedangkan kelas 7 dan 8 berjamaah di masjid An nur untuk mengikuti pengajian rutin ba’dal magrib sampai isya’, dilanjutkan jamaah di sana. Tiga shof itu juga mengingatkan bahwa hari ini adalah hari rabu, dimana setiap rabu malam ada agenda rutin rapat koordinasi minggguan untuk semua ustad. Biasanya dilaksanakan di teras mushola, lesehan, dan nyantai.

Keputusan untuk tidak memberangkatkan aku dan Pak Wahab, kuterima dengan lapang dada. Karena memang, aku sudah pernah mengikuti pembinaan yang sama tahun kemarin. Dan kenapa aku lapang dada, karena Pak Wahab, sebagai senior yang menjadi rujukan, juga sepertinya tidak akan berangkat tes, karena konsekuensi yang akan diterima jika lolos test tidak mungkin akan bisa dia lakukan. Hal itu disebabkan karena beliau tinggal menghitung hari untuk menyambut kehadiran putra pertamanya. Sedangkan jika lolos test ini artinya siap meninggalkan keluarga dan sekolah selama seminggu sepanjang 6 bulan ke depan. Namun hal itu tidak diungkapkan kepadaku. Karena tidak ingin menyurutkan semangat bersama untuk membuat target peningkatan kesuksesan tahun ini dari bidang sains. Namun hal itu sepertinya tidak berhasil. Aku sudah terlanjur patah arang. Sedangkan pertimbangan Pak Basuki sebagai kepala sekolah, biarlah bergantian yang berangkat, yaitu Pak Yono sebagai guru matematika yang tahun kemarin belum berhasil lolos seleksi, sedangkan aku dan Pak Wahab sudah mengikuti tahun kemarin. Masuk akal.

Beberapa teman pelatihan tahun lalu sudah menghubungiku dengan mengucapkan selamat bertemu lagi di ITS tahun ini untuk yang kedua. Dengan tersenyum kecut aku menjawab bahwa kepala sekolah ku tidak mengijinkan aku dan Pak Wahab untuk berangkat. Sederhana saja yang ku utarakan kepada mereka, “kepala sekolah kami belajar dari pengalaman tahun kemarin, ketika ditinggal Pak Wahab, sekolah menjadi kalang kabut karena beliau itu waka kurikulum. Lha kalau tahun ini yang ikut tiga orang lolos semua sementara guru di sini cuma 12 orang habislah nanti sekolahan ini”.

Aku sudah terbiasa dengan hal demikian. Setelah itu akan hilang menguap karena suhu luar tubuhku lebih tinggi, sedangkan tubuhku terbiasa relatif dingin. Aku sudah menikmati keputusan bahwa aku tidak berangkat test seleksi dengan nikmat dan enjoy.

Rapat sudah dimulai, Ustad Roni sudah membuka dengan basmalah, dan buku presensi sudah beredar siap untuk ditanda tangani.

Ketika rapat,

“jadi nanti kita memberangkatkan 15 anak. Yang 10 berangkat naik “Kijang” dengan Pak Insan dan Pak Yono, sedangkan yang 5 naik bus dengan Pak Birin. Lha nanti Pak Insan dan Pak Birin terus menuju Surabaya belanja komputer, dan anak-anak nanti biar pulang dengan Pak Yono naik Bus. Nggih Ngoten pak Yono ya, berani kan meng-angon 15 anak?”

nggih Pak, insyaallah sanggup” sendiko dawuh dengan manggut-manggut.

Sebenarnya aku yang mengatur semua rencana itu dengan Pak Insan. Dan menyampaikannya kepada Pak Roni, kemudian Pak Roni sebagai Wakasek menyampaikannya kepada Pak Basuki.

“begini Pak Basuki, saya tahun ini mempunyai target besar untuk olimpiade” Pak Wahab menyela.

“Tahun ini kami mempunyai target yang besar untuk olimpiade” Pak Wahab meralat .

“Saya kira, tahun kemarin itu kami masih belum cukup untuk meyerap ilmu dari ITS, maka kesempatan yang baik tahun ini kami tidak ingin melepaskannya. Ini juga salah satu alasan mengapa saya berani melepaskan kelas 9 untuk intensif dengan mencari pengajar dari luar dan saya fokus di pengembangan diri fisika. Karena kami punya target besar untuk tahun ini” jelas Pak Wahab

“oh, kalau begitu yang berangkat test Pak Yono dan Pak Wahab, jadi Pak Yono biar ada teman untuk membawa anak 15 naik bus”.

“Pak Birin juga harus berangkat Pak Basuki!” Pak wahab menegaskan.

“oh begitu, lha nanti Pak Insan dengan siapa belanja ke Surabayanya?”

“eh… kalau masalah itu nanti saya sendiripun juga tidak apa-apa” jawab Pak Insan mendukung

“kalau begitu terserahlah, jadi gurunya Pak Wahab, Pak Yono dan Pak Birin bersama 15 murid kita. Wong gratis saja, ya kan, mengapa tidak dimanfaatkan sebesar-besarnya”.

Dalam hitungan menit, pesimis ku mendapatkan counter attack dari perubahan kebijakan kepala sekolah yang akhirnya mengijinkan aku berangkat mengikuti test seleksi. Dan akhirnya keinginanku sejalan dengan takdir yang terlaku. Aku berangkat sesuai rencana terakhir.

***

Setelah test, seperti biasa aku tidak berani berharap banyak. Karena aku tahu tidak ada persiapan materi. Bahkan persiapan mentalpun sudah koyak karena keputusan pertama kepala sekolah yang tidak menyetujui keberangkatan ku. Aku hanya berharap anak-anak ada yang nyantol barang satu sukur-sukur bisa ke lima-limanya. Karena tahun kemarin aku yang lolos, sementara anakku tidak lolos. Kalaupun tahun ini tidak lolos aku tidak akan menyesal, dan mungkin itu akan lebih baik bagi sekolah. Aku sudah rela.

Setelah beberapa minggu, halaman situs Fisika ITS aku download dan alhamdulillah, Allah masih memaksaku untuk jatuh mengakui KemahakuasaanNya untuk mengatur segala sesuatu. Dua orang muridku bidang biologi lolos, dan 2 dari Fisika sementara dari matematika 1 anak. Total 5 anak. Benar-benar luar biasa. Tahun lalu hanya 1 anak. Sekarang 5 anak. Dan namaku juga tercantum untuk menjadi guru pendamping bidang biologi, untuk kali ke dua. Satu-satunya dari sekolahku. Alhamdulillah.

Setelah beberapa hari surat dari ITS menambah kegembiraan lagi dengan memasukkan nama Apriliawan sebagai peserta yang lolos dari bidang biologi. Jadi bertambah satu orang lagi siswa yang lolos. Dan biologi 3 orang. Aku tidak berani berspekulasi komentar alasan kenapa Pak Wahab dan Pak Yono tidak berusaha untuk lolos.

***

Akhirnya akupun berani memasang keinginan, bahwa tahun ini harus menjadi meningkat daripada tahun kemarin. Kalau tahun kemarin aku sudah berhasil mengantar Assayid menjadi peserta OSP. Tahun ini harus berhasil mengantar anak-anak menjadi peserta OSN. Atau kalaupun hanya peserta OSP yang lolos tidak hanya satu seperti tahun kemarin.

***

Dari hasil perkembangan anak-anakku selama di ITS aku tidak melihat hal yang signifikan untuk mendukung targetku. Malahan aku merasa kalah dengan anak didik Bu Nurul dan Pak Joko, juga anak anak dari surabaya. Anak-anakku masih berada di bawah. Wawan paling puncak hanya di peringkat 14.

Apa mau dikata, malah ketika seleksi ke tahap II Humam Ari terpaksa gugur dari persaingan eliminasi ke tahap 2. Aku sedih. Dan tidak tega untuk menyampaikannya.

Sementara Ryan dan Wawan masih bertengger di antara peringkat 10 sampai 15. jauh di bawah anak-anak 5 besar. Yah, aku enjoy kan dan aku nikmati keadaan.

***

Ketika OSK tiba, targetku, minimal 2 wakil bojonegoro adalah anak-anak ku, yaitu Wawan dan Ryan. Aku tidak berani memasang harga tinggi. Karena tahu sampai dimana kemampuan mereka.

Kepesimisanku ternyata dijawab dengan keluarbiasaan. Ketiga muridku lolos, dan ryan dan wawan berhasil di peringkat 38 besar. Bahkan wawan di 10 besar se jawa timur. Tentunya ini adalah jawaban, dan pemaksaan kepadaku agar aku semakin menyadari bahwa aku tidak boleh sombong, sok menentukan sesuatu. Merecoki prerogratif Allah Swt. Alhamduliilah, tamparan-Mu aku rasakan.

***

OSP menjelang, bolehlah berharap aku akan berangkat mendampingi anak-anak ke Malang. Karena tahun ini tidak dilaksanakan di Surabaya. Undangan panggilan ke dinas bersama anak-anak, beserta peserta dari sekolah lain aku anggap sebagai agenda konsolidasi dan penentuan guru pendamping yang akan diberangkatkan dinas ke Malang. Dan aku merasa akulah yang akan di tunjuk, karena siswaku yang lolos sebanyak 7 orang. Sedangkan sekolah lain paling banyak 5 dan bahkan ada yang 1.

Ternyata, dugaan meleset. Tida ada satupun dari guru pendamping yang ditunjuk menjadi pendamping. Orang dinas sendiri yang mengantarkan. Aku kecewa. Dan kecewanya lagi, sekolah lain guru-gurunya dibiayai sekolah untuk tatap mendampingi anak-anaknya, sedangkan aku, tidak mendapat tanggapan.

Aku baru sadar, ternyata untuk kesekian kalinya aku ditampar dengan keras bahwa aku tidak pantas ikut meyakinkan diri meng-kunfayakun-kan semua keinginan hatiku. Allah Maha Mengingatkan. Aku sang manusia mahalul khata’ wa nisyan.

Aku menikmati ketidakberangkatanku dengan enjoy dan rela. Aku berusaha menyadari sesadar-sadarnya. Tujuan dari keinginanku mendampingi ke Malang adalah agar anak-anakku bisa berhasil lolos ke nasional. Aku menyempitkan jalan kesuksesan ke nasional dengan seakan akan jalan ke nasional hanya akan bisa teraih jika aku mendampingi mereka. Aku membatasi kehendak Allah dengan kehendak ku. Sedangkan Allah mempunyai KehendakNya sendiri untuk mengantarkan takdir dari tetes ke tetes embun yang menetes dari ujung daun rumput teki di pagi hari. Dan kehendakku ternyata tetap dibawah kendali kehendakNya. Plak!!! . tamparan untuk kesekian kalinya. Astagfirullahaladzim.

***

Aku sedang mengucek pakaianku. Tiba tiba kakakku menyusulku di sumur dengan membawa HP yang sedang berdering. Aku lihat di layar LCD 2 inchi “Pak Aunur ITS calling. Bagaikan malaikat pembagi kebahagiaan, Pak Au mengabarkan bahwa Wawan dan Ryan berhasil lolos ke Nasional. Ke Makassar. Sujud syukurku kupersembahkan kepada Allah Swt. Tidak ada yang bisa aku ucapkan selain alhamdulillah.

Kebahagiaan menyelimuti hatiku. Dan ternyata Allah memang mempunyai jalan lain untuk menetapkan takdirnya, tidak harus sesuai dengan kemauanku untuk bisa membahagiakan aku.

***

Pujian, ucapan terima kasih dan sanjungan datang dari teman SC, teman guru, kepala sekolah dan orang tua murid. Juga beberapa dari teman ngeblog. Tiba-tiba aku berani minta doa kepada ibuku,

” Mak, doakan aku agar nanti bisa mendampingi anak-anak ke Makassar”

“muridku lolos ke tingkat nasional”

“doakan nggih”

“ya” jawab ibuku.

Aku sebenarnya tidak berani mengharap banyak kesempatan untuk bisa berangkat ke makasar. Tetapi kabar dari teman-teman SC yang katanya mau diberangkatkan sekolah dan orang tua masing-masing membuat keinginanku muncul lagi. Aku sudah berusaha melawannya dengan sering-sering mengucapkan

“saya tak fokus di latihan praktikum anak-anak, kalaupun sekolah mau memberangkatkan, aku tidak mau itu inisiatif dari saya. Cuman kalau boleh saya kasih tahu sekolah-sekolah lain memberangkatkan guru-gurunya untuk mendampingi anak-anak. Bahkan Yimi yang hanya satu anak yang lolos itu pun memberangkatkan gurunya.”

Ucapanku yang penuh nuansa politis dan samar, mengagitasi untuk mengajak orang lain memperjuangkan kepentingan ku. Ucapan yang berlepotan bau kepentingan pribadi yang disamarkan dengan kerendahan diri yang dibuat-buat.

Dan aka menuai ucapanku sendiri sebagai bumerang. Harapan kecil yang terpupuk itupun akhirnya membuaiku dengan kesemuan. Apalagi dipupuk oleh persuasi wali santri yang katanya menghendaki saya juga berangkat bersama anak-anak mereka, semakin meniup balon harapan sehingga semakin membesar dan melambung.

Sementara aku lupa lagi bahwa aku telah bermain dengan kehendak dan harapan yang tidak aku sadari semakin membesar dan melambung karena tiupan ucapan dan pernyatannku sendiri.

Aku yang tidak kunjung mengerti tentang pelajaran tawakkal dan kepasarahan.

Allah sekali lagi menampar dengan memberikan kabar dari YIMI bahwa mereka menganggarkan 10 juta untuk berangkat ke Makassar. Aku shock. Aku tidak berkomentar. Sedangkan aku tahu sekolah tidak akan mau mengeluarkan budget sebesar itu hanya untuk saya mengantarkan anak lomba saja. Dan akupun juga merasa itu adalah pemborosan. Akhirnya balon harapanku pun mengempis. Dan bahkan mengempis lekat, ketika kepala sekolah mengatakan “kan sudah otomatis Pak birin yang berangkat?”. dikira otomatis diknas menunjukku.

aku menjawab “tidak Pak, yang mengantar nanti orang dinas”

“oh, tapi kan anak-anak sudah di tanggung Diknas kan, jadi bukan biaya sekolah lagi. Biasanya itu ada surat tugas untuk guru mendampingi, masak guru pendampingnya tidak di berangkatkan”

Ucapan itu meletuskan harapan ku dan akupun kembali ke kesadaran ucapku yang dulu, bahwa aku harus percaya bahwa Allah mempunyai jalan tersendiri yang sangat mungkin berbeda dengan keinginanku yang serba terbatas kemampuan nalarnya.

Beberapa kali saya ngomong dengan melas, kepada siapa saja yang menanyakan, dengan ucapan “saya tidak ikut kok pak, bu, hanya anak-anak saja yang berangkat, yang mendampingi orang Diknas”

Dengan mengucapkan seperti itu aku merasa puas, karena kebanyakan mereka kemudian mencerca, memaki dinas yang tidak memberikan apresiasi bagi guru yang telah membawa “nama” kabupaten ke nasional.

Balonku sudah terlanjur pecah meletus dan aku buang.

Tiba-tiba suatu malam, Pak basuki dan Gus Huda memanggil aku. Bersama Pak Wahab, kami berempat mengawali diskusi dengan persiapan praktikum anak-anak. Aku mengatakan bahwa kita masih membutuhkan mikroskop dengan perbesaran yang lebih besar. Akhirnya sama pak bas disarankan pinjam ke SMA 2. dan aku disuruh bikin surat.

Tanpa ekspresi Gus Huda bertanya “lha Pak Birin juga ikut berangkat?”
saya bilang “tidak”

Kemudian Pak Basuki menjelaskan kepada Gus Huda kalo orang dinas yang mengantar.

“apa pondok tidak sanggup memberangkatkan?”

“sangat bisa” jawab Pak Basuki.

Malam itu awal terbukanya lagi jalan menuju makassar. Tapi aku tidak berani mempunyai harapan yang macam-macam.

Aku menikmati meletusnya harapan. tapi aku juga takut, tamparan apa lagi yang akan aku terima?

La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.

shobirin saerodji
Agustus 2008

Iklan

Mabuk dan Mengantuk part II

Saya ingin melanjutkan tulisan panjang saya beberapa waktu yang lalu. Jika kalian belum baca, klik aja di sini  Mabuk dan Mengantuk.

Ini masih tentang pengalaman pribadi saya dalam beberapa perjalanan. Terutama karena kebiasaan baru saya akibat dari trik saya mengatasi mabuk, yaitu dengan cara mengantuk.  Alhamdulillah, trik saya untuk mengatasi penyakit ndeso saya yaitu motion sickness alias mabuk kendaraan cukup jitu. yaitu dengan cara memaksakan tidur di dalam kendaraan.  cara memaksakannya adalah dengan menciptakan ngantuk yang sangat berat. caranya biar ngantuk berat adalah dengan begadang semalaman. Bolehlah kau coba itu kawan.

Ternyata, trik saya itu ada efek sampingnya. Yaitu, mudah mengundang kantuk tanpa harus begadang. Awalnya saya enjoy dengan itu. Karena intensitas saya naik kendaraan bisa dikatakan rutin. Hampir setiap 2 minggu sekali naik kendaraan umum. Kadang bus, kadang juga kereta api.  Ketika naik bus saya terbebas dari mabuk yang memalukan itu karena tidur pulas. Ketika naik kereta api ekonomi saya juga tidak begitu terganggu dengan ketidaknyamanan berupa super gerah, kotor, sumpek, rame, dan bau (saat) itu. (Kabarnya sekarang kereta api jadi bersih dan nyaman. syukurlah).

Tetapi, lama kelamaan kebiasaan tidur di atas kendaraan itu tambah parah. sampai-sampai setiap perjalanan berkendara saya hampir pasti mengantuk. dan tidak hanya itu, semakin lama semakin cepat saya dihinggapi ngantuk, yang kemudian disusul tidur. Rekor tercepat tidur adalah sebelum kondektur menarik ongkos karcis, saya sudah pules.

Pernah juga uang kembalian lupa tidak saya minta. karena ketika bangun tidur, saya terburu-buru turun bus karena ternyata bus sudah sampai tujuan. Dan efek buruk yang mengerikan adalah, pernah saya terbangun dari tidur, dan mendapati pelipis kiri kepala saya meneteskan darah. Menetes, dan menetes. Ternyata ketika tertidur, bus yang saya tumpangi ugal-ugalan, dan kepala saya terbentur pembatas kaca jendela. Dan parahnya, saya tidak merasakan sakit. jadi tidur tidak hanya mengatasi masalah  mabuk, bahkan, robek sekitar 3 cm dipelipis kiri pun tidak terasa, ketika tidur.  Tentu lain lagi yang saya rasakan ketika saya sudah terbangun.

Efek tertidur di atas bus dapat menghilangkan rasa sakit, hanya sekali itu pengalaman saya.  Yang paling sering adalah : kebablasen! (saya belum menemukan bahasa Indonesia-nya ).

Ini cerita “kebablasen” yang pertama. Harusnya saya turun terminal Pandaan, tapi terbangun dari tidur sudah di depan gapura Taman Safari. Saat itu saya masih kuliah di Surabaya. Saya punya rutinitas khusus setiap dua minggu sekali. Yaitu naik ke daerah dataran tinggi di Tretes – Pandaan. Bukan apa-apa, hanya mengunjungi kakak saya yang bekerja di sana. Bukan apa-apa, hanya mengunjungi dan “sedikit berharap” disangoni. (sedikit berharap, tapi dijadikan rutinitas. hehehe…).

Cerita yang , ini masih baru, Ketika kami (saya dan satu teman saya) berangkat kuliah ke kota Solo. Sudah satu semester lebih kami hilir mudik Bojonegoro-Solo. Biasanya kami berlima. akhir-akhir ini jadi jarang berangkat bersama. malam itu kami hanya berdua berangkat bersama. minggu kemarinnya, saya malah berangkat sendirian.

Sampai bus kami berdua langsung tidur seperti biasanya, dan karena kami berdua juga kebetulan adalah ahli “naum” maka kami berpesan kepada kondektur, minta dibangunkan kalau sudah dekat tujuan.
Ketika saya nglilir saya bangunkan teman saya. ” Pak kita nyampe mana ini?”
sambil kriyip-kriyip dan tolah-toleh kiri kanan melihat luar jendela bus, teman saya menyempurnakan kesadarannya dan menjawab, ” Masih jauh Pak, baru Sragen”.
Saya pun melanjutkan tidur lagi. Belum sempurna tidur saya, kondektur berteriak-teriak
“Solo, terakhir- solo terakhir”.
Kami berdua gelagapan bangun. Dan bus Sumber Kencono sudah berada di parkiran Terminal Tirtodadi. Tujuan kamu adalah Kampus UNS Kenthingan. Jadi kurang lebih saya perkirakan 3 KM kami “kebablasen”. Dan parahnya,  kami memutuskan jalan kaki untuk menebus “kebablasan” itu. Jadilah kami berdua backpacker mendadak, menyusuri jalanan malam antara Tirtonadi dan Kenthingan. Sepanjang perjalanan kami berdua bercerita dan bergurau. Tetapi, jangan bilang siapa-siapa kawan. ada yang saya sembunyikan dari obrolan sepanjang jalan itu, yaitu:  Minggu kemarin, saya juga “kebablasen”, cuman tidak sampai terminal. 😛
Shobirin Muhammad
-janjiku, telah kubayar kawan-

Mabuk dan Mengantuk

Dulu, waktu masih SD dan SMP saya adalah pengidap “penyakit” mabuk perjalanan. Dan menurut saya sudah dalam kategori akut.

Bukannya tanpa usaha mencegah, Antimo, minuman bersoda, menghindari makanan amis, sampai pada usaha konyol : memplaster pusar. (mungkin logikanya : mabuk itu perut mules, perut mules karena masuk angin, salah satu pintu masuknya ngin ke perut adalah pusar. biar tidak masuk angin maka pusar  ditutup dengan plester.  Jangan tertawa. Wallahua’lam). Semua usaha dan eksperimen itu tidak pernah sukses menghindarkan saya dari mabuk. Namanya juga akut.

Pernah suatu ketika saya menjadi duta lomba sekolah, saat itu berhasil melenggang ke tingkat propinsi.  Maka saya harus melakukan perjalanan ke kota Surabaya.  Karena penyakit saya itu, wal hasil, selama lomba saya tidak bisa banyak membantu menjawab peryatanyaan. Karena energi  saya sudah habis bersama habis nya isi perut selama perjalanan 2,5 Jam. Dan kelompok kamipun, kalah.  Pengalaman paling parah adalah ketika studi wisata kelas 2 SMP. Rasio waktu di dalam bis jauh lebih lama dibanding dengan menikmati waktu diobjek wisata . Maka perjalanan satu hari dua malam ke beberapa objek wisata luar propinsi itu benar-benar sukses menjadi kegiatan penyiksa saya.

Ketika saya mengajukan permohonan kepada orang tua untuk melanjutkan SMA yang agak jauh dari rumah, maka salah satu pertimbangan keberatan orang tua saya adalah kasihan, karena nanti akan mabuk kalau naik angkutan.

Ternyata saya tidak pernah mabuk selama 3 tahun naik angkutan umum yang membawa saya menempuh jarak 15 KM PP setiap hari.  Walaupun pernah pusing karena terkadang harus duduk menghadap belakang, pada akhirnya saya lulus dengan predikat : tidak pernah mabuk dengan memuaskan.

Setelah latihan selama SMA itu, berangsur-angsur penyakit  mabuk saya berkurang. Saya merasakannya ketika menikmati perjalanan Bus Surabaya-Kertosono, selama 4 tahun, semasa kuliah.

Salah satu tips sukses untuk menghindari mabuk dari saya  adalah tidur. Logikanya sederhana, Ketika saya tidur maka saya tidak melakukan aktivitas lain, tak terkecuali mabuk.  Obat-obatan seperti antimo mengandung dimenhydirinate punya efek sedatif (mengantuk).  Dengan tidur saya tidak peduli dengan goncangan utrikulus dan sakulus dalam telinga, juga saya tidak dipusingkan dengan gerak semu pohon-pohon di pinggir jalan yang seakan-akan berlari cepat menjauh. dengan tidur saya tidak akan ada ketimpangan antara rasa dan gerakan.  Dengan tidur di dalam bus maka saya tidak mabuk. Luar biasa.

Bagaimana agar bisa tidur di dalam bus?  Antimo, atau obat tidur? No. Saya tidak suka obat.  Saya punya tips tersendiri agar bisa tertidur di dalam kendaran. Pada awalnya bentuk  usaha untuk bisa tidur di dalam bus adalah dengan melakukan ritual “begadang sampai pagi”. Hal ini bertujuan agar besok saya terpaksa mengantuk, dan secara ihlas tertidur. Dan itu di dalam bus.

Sekarang, bisa dikatakan saya jarang punya masalah dengan penyakit mabuk perjalanan. Tapi kemampuan saya tidur di dalam kendaraan terus mengalami perkembangan. Tidak hanya di dalam bus, dan kendaraan umum lain. Bahkan pada kendaraan pribadipun (sepeda motor) saya juga bisa  berkendara  dengan mengantuk dan (bahkan) sesekali tertidur.

Balyandra, Numpang Bahagia dan Solo

Fathi Balyandra Muhammad.

Tanggal 14 Juli 2011 kemarin adalah ulang tahun pertama pernikahan kami. Tiga hari sebelumnya kado luar biasa kami terima, seorang anak laki-laki yang sehat jiwa raga dan sempurna fisiknya.  Lengkaplah sudah kebahagiaan kami. Kebahagiaan yang pasti diidam-idamkan oleh setiap suami-istri. Lanjutkan membaca ‘Balyandra, Numpang Bahagia dan Solo’

Segitiga

Sudut satu/

kita bangga-banggakan diri
mematut kesucian diri di hadapan lantai kotor tak berdaya
menaikkan derajat perjuangan pribadi di tingkatan ihlas yang abstrak
menempatkan diri pada posisi kepuasan yang berdasar teori konsep syukur
sebenarnya ini nikmat anugerah ataukah hukuman yang sirri?

kita tertawa lepas
menikmati kata-kata ajaib: kita sukses!
dan dengan meyakinkan meyimpulkan : Tuhan Meridhoi langkah kita.

sudut dua/

Aku berdiri di sini kelihatannya hanya berdiri
tapi hakekatnya aku berputar-putar
mencari dimana jatuhnya butir tasbih yang katanya ruh itu
ruh semua tujuan bergerak
ruh semua dasar berpikir
ruh yang membuat kita bercengkerama di medan perjuangan ini.

Lihatlah,
lihatlah rantai tasbih ini
Tak beraturan, lunglai diuntai benang berujung
Ujung yang menggerogoti satu persatu komponen kita.

Lihatlah rantai tasbih ini,
Tergeletak tak berdaya, merasa tak ada arti
Hilang hakekat fungsi, mati.

Apakah kau masih membanggakan indahnya manik-manik rantai itu?
Apakah kau masih memuji-muji gemerlapnya mata tasbih yang memang berkilau itu ?
Apakah kau masih dengan berteori syukur dan menempatkan tasbih itu di tempat dzikirmu setiap waktu?
Apakah indah wajah di cerminmu telah memalingkanmu dari merasakan dan mendengarkan jeritan hati yang terdalam?
Kawan,mari kita merenung.

Sudut Tiga/

Hai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja dengan penuh kesungguhan menuju Tuhanmu dan pasti akan kamu menemui-Nya” (QS 84:6).

ar-rahmat-pada suatu petang.

Refleksi dan Injeksi V

Tidak terasa, kebiasaan menulis akhir dan awal tahun yang berjudul Refleksi dan Injeksi (R & I ) sudah kali ke V ini. Semoga bisa meneruskan sampai saya bosan.

Mengawali menulis R & I V ini kutilik lagi tulisan R & I tahun lalu, ada beberapa point yang harus kuingat yaitu, Refleksi 1. Warning 4/5 tahun. 2. U-27. dan Injeksi : MENIKAH!

Baiklah kawan, satu persatu akan aku refleksikan perjalanan setahun hidupku sepanjang 2010 di halaman putih ini.

Refleksi

1. Warning 4/5!

Warning 4/5 tahun itu, menjelma menjadi tanda tanya dan ketakutan-ketakutan, selain juga sebuah pertanda untuk bersiap-siap.

Memang warning itu diucapkan pamanku untuk parjalanan hidupku, bahwa aku harus belajar di pondok selama 4 tahun dan kemudian menikah setelah 5 tahun (setahun berikutnya). Tetapi bagiku dan beberapa ustadz yang sering ku ajak diskusi, aku pernah mengkaitkan, bahwa ini ada juga hubungannya dengan pondok. Akan ada hal besar di tahun ke 5 aku di pondok ini. Tapi apa? aku sudah menuliskannya setahun yang lalu kawan di R & I – IV:

Lhah!!!! apa lagi hal besar yang akan terjadi pada tahun ke 5 ?.  Maka di wall FB aku tuliskan:

Tiba-tiba menjadi matematis-analitis-predict(is). Ah, aku bukan dukun. Aku Hidup Hari Ini. Laa khauf wa laa tahzan.

November 3 at 10:09am

Ternyata, tahun ke 5 aku di kota Ledre ini benar-benar menjadi tahun yang bersejarah. Banyak hal-hal besar terjadi di tahun 2010 ini.

1.  Untuk Mbah Kung.

Aku pertama kali bertemu 5 tahun lalu.  Seorang yang menurut penilaianku dan mungkin banyak orang adalah : Manusia Multisederhana. Iya, benar tidak cukup dengan kata “sederhana”. Dari aspek berpakaian beliau sederhana. Dari aspek makanan sehari-hari yang beliau santap, sederhana. Dari aspek kendaraan pribadi beliau sederhana. Dari cara bicara, beliau sederhana. Dari cara berjalan beliau sederhana, dari cara menyapa, beliau sederhana, dari minuman yang minum, beliau sederhana, dari rokok yang dinikmati juga sederhana.

Tapi ada yang tidak sederhana dari beliau, yaitu : dalam bersedekah. Gus Huda pernah menyampaikan bahwa hampir semua masjid di Bojonegoro pernah dibantu oleh beliau.

Beliau adalah Almagfurullah H. Rahmat, pemrakarsa, pendiri, pemilik dan donatur (satu-satunya) Pondok Pesantren Modern Ar-Rahmat.

Tahun 2010 ini, berkebalikan dengan usia beliau yang kian bertambah, kesehatan beliau berkurang. Itulah sakit yang saya tahu selama 5 tahun ini sampai membuat beliau masuk rumah sakit.

Menurut cerita ibu warung-sebelah beliau tidak pernah sakit. Sebenarnya bukannya tidak pernah sakit, tapi karena kesederhanaan beliau. Sakit beliau seperti jaman kecil saya dulu, cukup istirahat dan obat dari warung, sembuhlah. Menurut beberapa cerita lagi, beliau pernah operasi sesuatu penyakit, tapi tidak ada yang tahu. Tahu-tahu pulang sudah selesai operasi.

Kami menyimpulkan beliau tidak suka terlihat sakit, beliau ingin terlihat di mata anak-anaknya, pekerja-pekerjanya dan orang-orang disekitarnya selalu sehat, semangat dalam bekerja, tidak malas-malasan. beliau ingin selalu menyebarkan semangat HIDUP.

Kondisi yang membuat dada kami (para ustad) sesak, ketika membesuk beliau di RS. Wajah semangat tersebut berubah jadi pucat-pias. Kami tidak sampai hati.

Sebelum beliau sakit, di awal akhir tahun 2009 saya pernah ngobrol dengan seorang ustadz, bahwa warning 4/5 tahun paman itu kurasakan bukan hanya untuk kehidupan ku, tapi juga tentang pondok ini. Akan ada hal besar yang akan terjadi di pondok ini di tahun ini. Seperti yang kutuliskan diawal tulisan ini, saat itu aku menjadi suka menebak-nebak.

KATAKAN DENGAN DOA
I
Kemarin aku hanya bercanda.
aku tidak sungguh-sungguh dengan ucapan itu.
maafkan aku.
semoga aku tidak ge-er
dengan semua yang terjadi saat ini.
ku mohon perlakukanlah dengan baik
selayak kekasih yang akan balik
atau tangguhkan dia bersamaku
untuk mengarungi beberapa waktu
– kutahu : li kulli ummatin ‘ajal-
May 25 at 9:04pm

Puisi di atas kutulis setelah Mbah Kung benar-benar dalam kesehatan yang semakin memburuk. Beliau harus di rujuk ke salah satu RS terbaik di Surabaya. Beliau di ICU.

Kami para Ustadz membesuk beliau. Melihat beliau berbaring di atas dipan ICU dengan berbagai alat komplek yang melengkapi, semakin perih, semakin menyayat.

KATAKAN DENGAN DOA
II
Terlalu rindu mungkin Dia padamu
Sehingga seakan pupus harapan untuk berhasil merayu Waktu
Agar sebentar meluangkan untuk bercengkerama sedikit lagi denganmu
Aku tidak tahu mengapa berat
Meringankan pikir-suka dengan doktrin niat
Padahal langkah mu sudah cukup hebat
Untuk ukuran sebuah pengorbanan
Untuk ukuran sebuah perjuangan
Cobalah ganti kau yang rayu
Siapa tahu doa kau lah yang justru melesat menembus haru
Aku sudah patah dan tak kuasa melihat diammu
dalam renung suci malam ini yang kelabu
-Untuk Mbah Kung-
Shobirin Saerodji
25 May and 30 Juni
2010

Setelah kurang lebih berpindah 3 kali rumah sakit, akhirnya beliau meminta pulang ke ndalem. Sebelum pulang beliau meminta agar pagar rumah dan pondok cat ulang.

Setelah beberapa hari di ndalem, akhirnya beliau berpulang menghadap Ilahi Rabb dengan tenang. Pada ba’dal magrib, Selasa 6 Juli 2010.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang menghadap Allah Swt. Almaghfurullah Mbah H. Rahmat (Allahuyarham). Pendiri PPM Ar-rahmat Bojonegoro, Hari ini (6/07/2010) pukul 18.25 wib. Allahummaghfirlahu, warhamhu wa’afihi, wa’fu ‘anhu. Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah irji’ii ila robbiki rodhiyatan mardhiyyah. fa…dkhulii fii ibaadi wadkhulii jannati. Amin.

July 6 at 8:04pm via Mobile Web

2. Untuk Pondok

Setelah kehilangan Figur sentral seorang Mbah Kung, Mbah H. Rahmat, tahun 2010 ini berlanjut pondok mengalami kehilangan-kehilangan semu yang berturut-turut. Pertama, Seorang dokter relawan yang selama ini menjadi andalan kami dalam keadaan kepepet untuk memberikan layanan konseling dan berobat gratis untuk para santri, juga para ustadz, keluarga ustadz bahkan sampai saudaranya keluarga ustadz.

Keputusan untuk menikah di bulan April 2010, menyebabkan dia juga mengambil keputusan tinggal di rumah yang berada di luar kompleks pondok. Walaupun masih sesekali mampir pondok, tapi secara kuantitatif, pondok sudah merasa kehilangan seorang dokter.

Pernikahan Sang Dokter ternyata juga diikuti oleh pernikahan-pernikahan ustad lain. Terhitung 4 dari 6 ustadz yang jejaka, tahun 2010 ini menikah. Bisa dibayangkan bagaimana chaos yang terjadi di pondok?. Terutama asrama para jejaka ustadz ketika malam hari. Sepi.

Ya walaupun tidak kehilangan secara kuantitas, tapi secara kualitas pondok sudah mengalami hal besar dengan menikahnya 4 orang ini.

3. Untuk Aku

Di tahun ini nanti (jika di ijinkan Allah) usiaku adalah 27 tahun. Maka ada titik ekstrapolasi lagi yang menginjeksiku untuk melewati tahun ini dengan lebih hidup lagi. Maka tahun ini injeksi nyawaku yang terbesar adalah (dengan mengucap Bismillahirrahmanirahim) : MENIKAH!

Paragraf di atas adalah penutup tulisan Refleksi dan Injeksi tahun lalu.

Dengan mengucap Alhamdulillahirabbilalamin, aku telah menikahi secara resmi pada 14 Juli 2010 dengan seorang calon ibu dari anakku yang pernah ku kenalkan tulisannya di blog ini dengan judul : Manis-manis, Manis dan A Complicated Change.

Sebuah niat yang telah diinstallkan ke dalam hati saya melalui tulisan U-27 ternyata sejalan dengan Takdir Allah Swt.

Menikah, adalah sesuatu yang besar. Maka efeknya juga besar. Kualitas dan kuantitas saya ke pondok semakin berkurang dan berkurang. Kesungguhan kesungguhan dalam bekerja semakin positif. Banyak hal-lah pokoknya yang berubah setelah menikah.

Kalian pasti ingat dengan status FB ku yang ini :

“Percaya atau tidak, posting ini saya lakukan di atas pelaminan, dengan asesoris utuh, dan para tamu yang bejubel!

Lihatlah kawan, baru saja aku menikah, belum turun dari pelaminan tapi aku sudah berani bertindak aneh. Menikah memang membuat kau berperilaku aneh.

4. Untuk Pondok, Aku dan anakku dari OSN

Tahun ini juga tahun kenaikan titik puncak capaian dari bidang OSN. Seperti yang telah kuceritakan pada tulisan yang berjudul : Setelah Perunggu, sekarang Perak. tahun 2010 ini Biologi mempersembahkan Medali Perak, setelah perunggu tahun 2008 melalui ketelatenan dan kecerdasan Seorang Maulana Iffan Akbas. Santri “teraneh” yang pernah saya bimbing.

Pelajaran berharga dari tahun 2009 yaitu :

” kalau kamu tidak mau mengajari ilmu yang engkau punya itu sama dengan “ngempet rahmate Gusti Allah” (menahan tersebarnya rahmat Allah: Ind).

Juga;

Jalan untuk menuju ke Roma ternyata tidak harus naik angkutan jurusan Roma. Biarlah saya banyak membimbing di tempat lain, doa saya adalah semoga keberkahan saya mengajar di tempat lain itu adalah berupa kemudahan Maula belajar mandiri melebihi kemudahan belajar dengan bimbingan saya.

Alhamdulillah. Maula telah di ridhai Allah untuk mengangkat lebih tinggi nama Pondok Ar-Rahmat di tingkat Nasional melalui OSN ini. Dan bolehlah sedikit saya berbangga dengan capaian anak didik saya ini. Terima kasih, anakku.

5. Untuk Keluarga Kecil dan Besarku

Tanpa sering ku sadari, saya sekarang sudah berkeluarga. Ya, keluarga kecil, dengan komposisi : Saya sebagai suami, dan istri saya tercinta.

Sementara keluarga besar, semakin bertambah besar karena keluarga istri saya sekarang masuk daftar keluarga yang harus dikunjungi ketika hari raya idul fitri. bertambahlah besar keluarga besar saya.

Kawan, sebenarnya terlalu dini kalau aku ceritakan sekarang. Tapi tidak apa-apa. Namanya kebahagiaan harus disharing dengan ikhlas dan rela.  Begini kawan, tahun ini, Keluarga kecilku menyumbang satu titik ekstrapolasi lagi. Mungkin ini adalah titik ekstrapolasi baru yang tertinggi, dipuncak-puncaknya puncak.

Ada beberapa keluarga kecil yang mencapai titik keberhasilan tertinggi diaspek apa saja. Uang, mobil, rumah, perusahaan, karir dan lain-lain telah terpuncaki,  tapi belum berhasil mencapai titik “keturunan”.  Maka anak adalah puncak-dari segala puncak pencapaian, bagi sebuah keluarga kecil.

Kawan, zaman sekarang ada sebuah kertas kecil sekitar 10 cm, yang ajaib. Suatu pagi-pagi -subuh- buta, istriku membawa kertas ajaib itu ke kamar mandi. Setelah dibawa kembali ke kamar, kertas tipis itu menunjukkan dua garis sejajar setelah dicelupkan ke (maaf) air seninya. Serta merta kami berdua berbahagia tak terkira karena melihat dua  strip sejajar yang mirip dengan lambang matematika “sama dengan” itu.

Setelah minggu ke 3 minggu dari kejadian tersebut, kami berdua mengunjungi dokter yang bergelar Sp.OG. walaupun tidak ada salah satu dari kami yang sakit. Sesuatu yang baru saya tuliskan tadi sering disebut orang-orang : PERIKSA.

Di ruang tunggu rumah praktek dokter Obstetri dan Ginekologi itu kami (aku dan istriku) seperti dua anak kecil yang mau beli permen di toko besar. Bingung, mau bilang beli apa.

Sedari Dulu II
Allah Maha Memberi
Sedari dulu.
aku diberi ini
aku diberi itu…
aku diberi yang tak kuminta
aku diberi apa saja yang kumohonkan
aku diperbolehkan meminta
bahkan aku diperintahkan memohon
aku harus semangat meminta
bahkan dosa jika aku putus asa
Engkau Maha Memberiaku bahagia menjadi abdi-Mu
yang selalu kau perintah untuk kepentingan kebaikanku.

Bojonegoro, 16 November 2010
untuk semua nikmat yang kuterima.
ahyi ruhana fii qulubi khalqika ajmain.

Alhamdulillah, Kami berdua resmi akan menjadi Bapak dan Bunda dari janin kami yang saat ini berumur 10 pekan.

INJEKSI

Titik ekstrapolasi yang bertubi-tubi di tahun 2010 ini membuat aku jadi semakin semangat menghadapi tahun 2011 nanti.

Aku tidak perlu bertanya-tanya lagi injeksi apa yang harus ku installkan ke dalam hidupku. Sudah jelas. Urusan Pondok, sekolah dan keluarga kecil (dan besar) ku. Itu sudah cukup banyak menghasilkan titik-titik ekstrapolasi ditahun 2010 yang harus tercapai.

Untuk Pondok

Semoga aku bisa memberikan kontribusi nyata yang lebih banyak untuk pondok Ar-rahmat. Tidak cukup dengan medali, tapi ruh dan jasadku harus lebih banyak ku wakafkan kepadanya. Jika tahun ini banyak yang lolos CPNS seperti aku 2 tahun lalu, maka ada sesuatu yang harus ku korbankan untuk pondok, walaupun tidak pati obong seperti Dewi Setyowati, Istri Sinuhun Angling Dharma, tapi paling tidak ada yang lebih untuk pondok tercinta.

Untuk Tugas Negara

Sementara aku tidak terlalu berangan-angan besar untuk karir di sini, karena selama ini aku masih berlari dengan daya pikir-nalarku karena sudah berada di tempat yang lebih jauh dari tempat yang seharusnya aku tempati. Maksudnya, apa yang aku capai saat ini sudah lebih-lebih, dibanding kemampuanku sebenarnya. Maka hanya satu kata “BELAJAR TERUS” . Itu saja. (he he he… dua kata ya?. biarin!)

Untuk Keluarga Kecilku

Tahun 2011 ini, injeksi terbesarku adalah pada Anakku. Ah…. sungguh luar biasa, aku menyebut anakku. anak kandungku. Amazing…. . Aku ingat dawuh Kyai yang mengisi haflah pondok tahun kemarin. Bahwa anak itu bisa menjadi berkah, juga bisa menjadi fitnah (naudzubillah).  Maka quuratu a’yun, cahaya mata adalah harapan kami untuk anakku yang akan lahir ditahun 2011 ini nanti kupohonkan kepada Allah Swt, sepanjang selesai shalat lima waktu.

Semoga kesehatan untukmu dan bundamu.

Aku bahagia melewati akhir tahun 2010 ini.

Alhamdulillahirabbil alamin. Walaa haula wa laa quwwata illaa billah. (Choby)

Selamat tahun baru 1432 Hijriah / 2011 M.   Semoga senantiasa bisa me-REFLEKSI semua yang berlalu agar ke depan menjadi lebih baik. Semoga bisa menemukan INJEKSI semangat dan cita-cita baru yang mengafinitasi kesuksesan di tahun depan.

Balen, 13 Desember 2010 / 7 Muharram 14332
Muhammad Shobirin Saerodji
(dedicated for my small family)

Katakan dengan doa

I
Kemarin aku hanya bercanda.
aku tidak sungguh-sungguh dengan ucapan itu.
maafkan aku.

semoga aku tidak ge-er
dengan semua yang terjadi saat ini.

ku mohon perlakukanlah dengan baik
selayak kekasih yang akan balik

atau tangguhkan dia bersamaku
untuk mengarungi beberapa waktu

– kutahu : li kulli ummatin ‘ajal-

II
Terlalu rindu mungkin Dia padamu
Sehingga seakan pupus harapan untuk berhasil merayu Waktu
Agar sebentar meluangkan untuk bercengkerama sedikit lagi denganmu

Aku tidak tahu mengapa berat
Meringankan pikir-suka dengan doktrin niat
Padahal langkah mu sudah cukup hebat
Untuk ukuran sebuah pengorbanan
Untuk ukuran sebuah perjuangan

Cobalah ganti kau yang rayu
Siapa tahu doa kau lah yang justru melesat menembus haru
Aku sudah patah dan tak kuasa melihat diammu
dalam renung suci malam ini yang kelabu

-Untuk Mbah Kung-
Shobirin Saerodji
25 May and 30 Juni
2010

Kawan, Aku Lulus!?

Oleh: Shobirin Saerodji*

Ada beberapa hal yang sampai saat ini aku tidak mengerti. Mengapa Tuhan kadang-kadang bertindak berkebalikan. Di sisi lain Dia menyuruh ku untuk berbuat amal kebaikan, tapi kemudian Dia menciptakan sarana-sarana yang malah dengan sarana-sarana itu membuatku semakin ingin untuk melakukan kejahatan. Dan meninggalkan kebaikan. Ini kalau kupikir dengan dangkal terjemahannya adalah Tuhan sepertinya menyuruhku untuk melakukan kejahatan.

Hari ini, ratusan teman-teman beda sekolah berkendaraan wira-wiri mengelilingi jalan lingkar selatan kota ini. Ijin dari kepolisian menyatakan bahwa hanya sekitar jalur jalan itulah teman-teman diperbolehkan untuk merayakan kelulusan hari ini.

Seperti adat-adat sebelumnya entah mulai sejak  kapan, aku yakin kalianpun juga tidak tahu, semprot-menyemprot cat dan corat-coret tanda tangan di baju-baju seragam tadi jam 9 sudah selesai di halaman sekolah. Sekarang menjelang dhuhur sudah 3 kali putaran rombongan rombongan sepeda motor ini lewat depan gerbang sekolah. Meraung-raung suara sepeda motor dan suara gaduh nyanyian koor lagu penyemangat laskar Angling Dharma, trademark-nya Boromania. Teman-teman terlihat bahagia selayaknya mereka habis didoping 4 ampul stimulant. Euphoria.

Meraung-raung suara knalpot sepeda dan teriakan lagu yang biasa kudengar dipertandingan sepakbola itu semakin menjauh untuk ketiga kalinya.

Pasti kalian bertanya, mengapa aku tidak ikut dengan mereka.  Mungkin kau pikir aku tidak punya motor? Atau aku kuper yang autis? Atau bahkan kau pikir aku tidak lulus?. Semua jawabannya Tidak, kamu salah. Walaupun hanya bebek tahun ‘96, motorku sudah layak dibawa clubbing nongkrong di pinggiran jalan alun-alun kota setiap malam mingguan. Dan juga, aku adalah mantan sekretaris OSIS yang juga merangkap mantan ketua Army-pala, ekskul Pecinta alam yang ada di sekolahku. Dan maaf kawan, bukannya aku sombong, aku tidak hanya lulus dari UN tahun ini, tapi, NEM ku tertinggi se Kabupaten, dan aku sudah tercatat sebagai calon Mahasiswa Teknik Perkapalan ITS melalui jalur PMDK yang tesnya kuikuti bulan kemarin. Lanjutkan membaca ‘Kawan, Aku Lulus!?’

Balada Minggu Pertama di Bulan Oktober

Kawan, ku buka lembaran awal dibulan Oktober ini dengan banyak merenung. Allah Sedang Mengajakku Berbicara, dengan bahasa yang agak sulit kupahami, tapi dapat kurasakan. Allah Sedang Menegurku, karena aku ngengkel terhadap aturan-Nya.

Kuluapkan pada posting pendek di halaman Facebook, sekarang ku kumpulkan di sini, agar tidak berserakan, sekaligus sebagai oleh-oleh dari sebuah ketidakmanutan.

I.
Engkau Maha Mengatur Segala Sesuatu. Lanjutkan membaca ‘Balada Minggu Pertama di Bulan Oktober’

Ya Amplop – ya amplop

PESTA pernikahan memang tidak bisa dipisahkan dengan angpaw pernikahan (dalam bahasa Jawa, kami biasa menyebutnya Duit Buwuh). Entah sudah berapa lama budaya buwuhan ini dimulai. Yang jelas dengan adanya budaya ini saya sering mendengar tetangga saya, -terutama ibu-ibu- mengeluh karena musim buwuh sudah datang. Artinya kocek harus dirogoh lebih dalam dalam bulan-bulan ini.

Saya tidak akan membahas mengenai adat buwuhan, ataupun memperbincangkan keluhan ibu-ibu mengenai nasib kocek mereka akibat buwuh. Saya hanya ingin menceritakan pengalaman pribadi saya seputar buwuhan pada pernikahan teman-teman saya. Lanjutkan membaca ‘Ya Amplop – ya amplop’


]} Qolbu Berbisik

qbfot


Sebelum semuanya berlalu ...

Semua yang ada di sini kebanyakan hanya pikiran-pikiran yang ada di otakku, kemudian aku tuangkan. Jadi mungkin banyak yang kurang berkenan dengan pengetahuan, perasaan atau keinginan anda mohon dipermaklumkan.

slide-1_3.jpg
image source : http://www.gusdur.net/

Selamat Jalan Gus Dur

Beribu terima kasih terucap untukmu
Engkau pergi setelah meninggalkan keteladanan hidup yang agung

Tak mudah kami mencatat,
Karena engkau telah menempuh jalan kebangsaan yang panjang
Karena engkau tak pernah henti menyalakan lentera kemanusiaan

Jasadmu boleh sakit dan pergi, tapi ruh dan semangatmu terus hidup bersama kami

Hiduplah dalam damai di kampung kedamaian

Selamat jalan Gus Dur...

Puisi oleh: Kang Yoto-Kang Harto (Bupati-Wabub Bojonegoro) disadur dari Radar Bojonegoro, Jumat 1 Januari 2010).

Coba-coba cari uang online!

}}Polling

]} Tulisanku Semuanya

]} Tamuku

  • 193,509 Pengunjung

Flickr Photos

Iklan

%d blogger menyukai ini: